KULTUM 11
TUJUAN DARI SHIYAM
Asslamu’alaikum wa rahmatullohi wa barokatuh
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam, sholawat dan salam keatas nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam, para keluarga, sahabat, tabi’ien, tabi’uttabi’ien dan seluruh umat beliau yang senantiasa menghidupkan sunnah beliau sampai hari kiamat nanti.
Bapak Ibu, jama’ah rahimakumulloh, alhamdulillah kita masih diberi oleh Alloh kesempatan untuk berjumpa kembali dengan bulan ramadhan, bulan yang penuh dengan barokah dan maghfiroh, bulan dimana kita semua diperintahkan untuk melaksanakan ibadah shiyam, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” ( Qs. Al-Baqoroh 184 )
Bapak Ibu Jama’ah yang dimuliakan Alloh, dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa perintah shiyam tidak hanya ditujukan kepada umat Islam semata, namun juga berlaku bagi umat-umat sebelumnya, hanya saja pelaksanaanya barangkali tidak sama dengan shiyam yang diwajibkan bagi kita.
Adapun pengertian shiyam yang dikehendaki syari’at adalah :
تَعْرِيْفُ الصَّوْمِ: الصَّوْمُ لُغَةً: الإِمْسَاكُ وَالْكَفُّ عَنِ الشَّيْءِ، قَالَ: صَامَ عَنِ الْكَلَامِ، أَيْ أَمْسَكَ عَنْهُ
Pengertian secara bahasa : menahan atau mencegah dari sesuatu, ia berkata : puasa dari berbicara artinya adalah menahan diri darinya.
فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (26) }
maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.”( Qs. Maryam 26 )
yang dijelaskan oleh ayat tersebut adalah Maryam, yang ketika ia ditanya tentang anak yang dilahirkanya yaitu nabi Isa ‘alaihisalam, beliau memilih puasa tidak berbicara.
وَشَرْعاً: هُوَ الْإِمْسَاكُ نَهَاراً عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ بِنِيَّةٍ مِنْ أَهْلِهِ مِنْ طُلُوْعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ
Secara syar’i : menahan diri pada siang hari dari hal yang dapat membatalkan puasa dengan niat dari orang yang berkewajiban, sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.[1]
Sehingga, shiyam yang dianggap sah adalah shiyam yang sesuai dengan syari’ah, adapun shiyam diluar dari kehendak syari’ah seperti puasa mutih, puasa ngidang, puasa pati geni dan lainya bukanlah puasa yang dimaksud oleh syari’at.
Kemudian yang terpenting adalah apa tujuan sebenarnya dari perintah shiyam ?, sebagaimana disebutkan dalam ayat, bahwa tujuan dari perintah shiyam adalah supaya kita menjadi orang yang bertakwa (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ), lalu apa itu pengertian takwa :
وَقَدْ سَأَلَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ -رَضِىَ اللهُ عَنْهُ- أُبَيًّا عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ: هَلْ أَخَذْتَ طَرِيْقًا ذَا شَوْكٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهِ؟ قَالَ: تَشَمَرْتُ وَحَذَرْتُ، قَالَ: فَذَاكَ التَّقْوَى (1).
Umar bin khattab pernah bertanya kepada Ubay tentang takwa : beliau ( Ubay ) menjawab : apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh dengan duri ? Umar menjawab : ya tentu, Ubay bertanya : apa yang anda lakukan ?, Umar menjawab : aku akan serius dan berhati-hati, Ubay berkata : demikian halnya takwa.
Bapak ibu rahimakumulloh, jadi takwa itu adalah sikap kehati-hatian dalam bertindak dan berperilaku, selalu memilih dan memilah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram.
Penjelasan Ubay tersebut senada dengan apa yang disabdakan oleh nabi sholallohu alaihi wasalam :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ
“Seorang hamba tidak akan sampai pada derajat orang-orang muttaqin sehingga dia meninggalkan sesuatu yang boleh (mubah) karena berhati-hati dari hal-hal yang dilarang.” ( HR. Tirmidzi )
Untuk itu marilah kita bermuhasabah apakah puasa yang selam ini kita lakukan sudah merubah diri kita menjadi orang yang bertakwa ?, apakah kita sudah menjadi orang yang berhati-hati dalam melangkah ?, ataukah sebaliknya kita hanya mengejar keuntungan dunia semata dan tidak menghiraukan halal dan haramnya.
Bapak Ibu rahimakumulloh, yang paling penting lagi adalah, kita tidak mungkin bisa terhidar dari perkara haram apalagi yang syubhat jika kita tidak mengetahui dengan pasti mana yang haram dan mana yang halal, untuk itu, mencari ilmu adalah kewajiban bagi kita semua, baik dengan memperbanyak membaca, menyimak kajian dan lain sebagainya, yang denganya semoga kita semakin paham dan jelas mana yang halal dan mana yang haram.
Adapun perkara yang masih samar bagi kita akan hukumnya maka prinsip yang diajarkan oleh rasululloh adalah, supaya perkara yang masih samar itu hendaknya ditinggalkan, hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits :
الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ
“Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya.” ( HR. Bukhori )
Maka untuk perkara yang kita masih samar hendaklah ditinggalkan sebagai bentuk kehati-hatian.
Bapak Ibu rahimakumulloh, demikian kultum yang dapat kami sampaikan, semoga Alloh menerima segala amal ibadah kita dan mencatatnya menjadi amal sholeh sehingga di bulan ramadhan tahun ini kita dapat meraih gelar muttaqin sebagaimana yang dijanjikan Alloh bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah di bulan suci ramadhan.
Apabila banyak salah kata dan kalimat yang kurang berkenan dihati, kami mohon ma’af yang sebasar-besarnya.
Wassalamu’alaikum warohmatulloh
[1] Al-mausu’ah al-fiqhiyah al-kuwaitiyah huruf shin jilid 28 hal. 7 al-maktabah as-syamilah