Thiyaroh Website Administrator November 3, 2024

Thiyaroh

KULTUM 4

THIYAROH

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

Segala puji kita haturkan kehadirat Alloh subhanahu wata’la, shalawat dan salam ke atas nabi kita Muhammad sholallohu alaihi wasalam, para keluarganya, para sahabatnya, para tabi’ien, tabi’uttabi’ien dan bagi seluruh umatnya yang setia mengikut sunnahnya hingga hari kiamat nanti.

Kaum muslimin rahimakumullah, pada kesempatan kali ini mari kita mengkaji tentang pengertian tiyarah, apa itu tiyarah berikut penjelasanya :

Tiyaroh, adalah istilah untuk perbuatan menyandarkan kesialan kepada burung. Dahulu orang-orang Arab memiliki kebiasaan selalu menyandarkan nasib buruknya kepada burung-burung tertentu, misal ia akan menempuh safar maka ia perhatikan kemana arah burung tersebut terbang maka ia berkesimpulan bahwa arah yang ia tempuh akan membawa kesialan dan lain sebagainya

Nah itulah pengertian tiyarah, lantas apa hukumnya dalam Islam ?

Tentang hukum tiyaroh dijelaskan di dalam hadits nabi berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “الطِّيَرَةُ شِرْكٌ” وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“ tiyaroh adalah syirik tidaklah kita kecuali ( pasti dihinggapinya ) akan tetapi Alloh hilangkan dengan tawakal ( HR. Ibnu Majjah dengan sanad shohih 4/561 )

Maka sudah jelas di sini, bahwa tiyarah hukumnya adalah syirik yang harus dijauhi.

Kaum muslimin rahimakumullah, dalam prakteknya tiyarah tidak hanya menyandarkan nasib buruk kepada burung, akan tetapi maknanya lebih luas, setiap penyandaran keburukan atau kesialan kepada selain Alloh, masuk dalam kategori tiyarah, hal ini sebagaimana tiyarahnya fir’aun yang dijelaskan dalam ayat :

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (130) فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ(131)

“ Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. ( Qs. Al-A’rof 130-131 )

Maka dari itu kita tidak diperbolehkan mempunyai anggapan manakala kita mendapatkan musibah kemudian menyandarkan musibah tersebut kepada orang lain, jika demikian maka kita telah melakukan tiyarah sebagaimana tiyarahnya fir’aun.

Kaum muslimin rahimakumullah, begitu bahaya perbuatan tiyarah ini, lalu bagaimana cara menangkalnya ?

Dalam satu hadits nabi sholallahu alaihi wasalam bersabda :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: «الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ»

“ tidak ada tiyaroh dan yang terbaik adalah al-fa’lu, dikatakan, wahai rosululloh apa itu al-fa’lu ? beliau menjawab, “ yaitu kalimat yang baik yang didengar salah seorang diantara kalian “ ( HR. Muslim 4/1745 )

Tidak dipungkiri bahwa musibah akan menyebabkan orang menjadi marah, sehingga ia akan melampiaskan amarahnya kepada orang lain dengan menyalahkan orang tersebut, maka rasulullah mengingatkan agar senantiasa berprasangka baik kepada Alloh dan tidak mengatakan kecuali yang baik-baik ketika tertimpa kemalangan dan kesialan, kalimat yang baik itulah yang akan menjadi penawar duka lara ketika tertimpa kemalangan dan musibah.

Bapak ibu yang dimuliakan Allah, terakhir rasulullah mengajarkan kepada kita semuanya do’a perlindungan dari tiyarah, sebagaimana dalah hadits :

وَرَوَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ رَجَّعَتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ). قِيلَ: وَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: (أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ ثُمَّ يَمْضِي لِحَاجَتِهِ)

Dan diriwayatkan dari Abdulloh bin Amru bi Ash dari Rosululloh sholallohu alaihi wasalam bersabda “ barangsiapa yang kembali dari hajatnya karena tiyaroh sungguh ia telah syirik “, sahabat bertanya “ lantas apa penebusnya wahai rosululloh ?” beliau bersabda “ hendaklah salah seorang diantara mereka berkata “ ya Alloh tiada kesialan kecuali atas kehendak-Mu dan tiada kebaikan kecuali atas kehendak-Mu pula dan tiada sesembahan selain-Mu “ kemudian hendaknya ia melanjutkan hajatnya “ (HR. Abu Dawud )

Itulah do’a yang diajarkan rasulullah agar tabah dalam menghadapi musibah dan kemalangan sehingga tidak melakukan tiyarah. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semuanya dari tiyarah. Amin

Bapak ibu rahimakumullah, demikianlah kultum yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat fiddunya wal akhirat, amin

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh