KULTUM 5
MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
Segala puji kita haturkan kehadirat Alloh subhanahu wata’la, shalawat dan salam ke atas nabi kita Muhammad sholallohu alaihi wasalam, para keluarganya, para sahabatnya, para tabi’ien, tabi’uttabi’ien dan bagi seluruh umatnya yang setia mengikut sunnahnya hingga hari kiamat nanti.
Jama’ah yang dirahmati Allah, telah banyak disampaikan oleh para mubaligh tentang kewajiban puasa bulan ramadhan, diantara dalil-dalil tentang puasa ramadhan tersebut diantaranya, firman Allah Ta’ala :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184)
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui ( Qs. Al-Baqoroh )
Maka jelas bahwa puasa ramadhan hukumnya wajib, tidak diperbolehkan bagi kaum muslimin yang tidak memiliki udzur untuk meninggalkanya, bahkan orang yang dengan sengaja meninggalkan puasa tanpa udzur maka ia tidak akan dapat menggantinya meskipun dengan berpuasa selama setahun penuh, hal ini sebagaimana disabdakan oleh rasululloh sholallohu alaihi waslam dalam hadits :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ: «مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ مَرَضٍ، لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ»
“ barangsiapa berbuka satu hari pada bulan ramadhan tanpa ada udzur atau sakit maka puasanya itu tidak dapat di qadha ( ditukar ) meskipun dengan puasa setahun lamanya “ ( HR. Mutafaqqun alaih )
Jama’ah rahimakumulloh, tidak hanya itu bahkan nabi mengatakan, barang siapa yang meninggalkan puasa ramadhan dengan sengaja sesungguhnya ia telah kafir, hal ini sebagaimana dalam hadits :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: قَالَ حَمَّادٌ: وَلا أَعْلَمُهُ إِلا وَقَدْ رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” عُرَى الإِسْلامِ وَقَوَاعِدُ الدِّينِ ثَلاثَةٌ عَلَيْهِنَّ أُسِّسَ الإِسْلامُ: مَنْ تَرَكَ مِنْهُنَّ وَاحِدَةً فَهُوَ بِهَا كَافِرٌ حَلالُ الدَّمِ.
“ ikatan Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga terbangun diatasnya pondasi Islam, barang siapa meninggalkan salah satunya maka ia telah kafir halal darahnya “ ( dalam zawaid Abu Ya’la 1/41 di dhoifkan oleh Syaikh Al-Bani ).
Nah, itulah hukum puasa dimana tidak diperbolehkan bagi yang tanpa udzur untuk meninggalkanya, lantas apakah udzur syar’i yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan ia harus menggantinya di hari yang lain?
Pertama adalah Sakit, sakit yang bagaimanakah seseorang dapat meninggalkan puasa dan menggantinya dengan hari yang lain atau membayar fidyah :
Menurut madzhab dzohiri semua jenis sakit meskipun sakit ringan. Sedang menurut jumhur, sakit yang berat yang dapat membahayakan jiwa jika berpuasa.
Saudaraku sekalian, untuk kehati-hatian lebih baik kita mengikuti jumhur atau mayoritas ulama, karena dalam hal ini pendapat jumhur lebih hati-hati.
Adapun yang kedua adalah Safar, berapakah jarak yang diperbolehkan bagi seorang musafir untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari yang lain :
Menurut Syafi’ie dan Ahmad, jarak 2 hari 2 malam sebanding dengan 16 farsakh ( 1 farsyakh sekitar 7,5 Km ). Menurut Abu Hanifah dan At-Tsauri, jarak 3 hari 3 malam sebanding dengan 24 farsakh. Apabila menggunakan ukuran jarak menurut para ulama’ adalah 48 mil yang mana kurang lebihnya adalah 75-80 KM
Kemudian yang ketiga adalah Hamil dan manyusui
Wanita hamil dan menyusui apabila khawatir dengan diri dan anaknya maka ia boleh tidak berpuasa. Karena kedudukanya seperti orang yang sakit. Dan hendaklah ia ganti dengan hari yang lain. Menurut Abu hanifah ia cukup mengganti saja. Sedangkan menurut Syafi’ie dan Ahmad hendaklah ia mengganti dan membayar fidyah.
Itulah sedikit penjelasan tentang fiqih orang yang meninggalkan puasa ramadhan dan apa saja yang menjadi sebab diperbolehkanya, semoga bisa menambah wawasan kita semua, dan apabila dalam penyampaian kami banyak kekurangan maka mohon dima’afkan
Wassalamu ‘alaikum warahmatullohi wabarokatuh