PENYAKIT RAKUS Website Administrator October 4, 2024

PENYAKIT RAKUS

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

Dalam kamus bahasa Indonesia, rakus memiliki beberapa makna :

  • Rakus yang bermakna, suka makan banyak dengan tidak memilih. Rakus juga berarti lahap. Rakus juga berarti gelojoh.
  • Arti kata rakus adalah ingin memperoleh lebih banyak daripada yang diperlukan. Rakus juga berati loba. Rakus juga berarti serakah.
  • Arti kata kerakusan adalah perihal rakus. Kerakusan juga berarti ketamakan.

Itulah definisi rakus, dimana rakus ini tidak hanya menimpa orang-orang kaya saja, tapi juga menimpa orang-orang miskin. Bahkan kemungkinan menimpa orang fakir dan miskin lebih besar.

QONA’AHLAH :

Para ulama’ menjelaskan, bahwa kefakiran adalah kemuliaan, maka seyogyanya seorang yang fakir menjaga jiwa qona’ah ( merasa cukup dengan apa adanya ), tidak loba terhadap harta orang lain, tidak menoleh terhadap apa yang dimiliki oleh mereka. Dan tidak rakus mengusahakan harta, bagaimanapun adanya jalan yang akan ditempuh. Qona’ah akan menjadikan ia tetap dalam kemuliaan, sedangkan rakus akan membawanya kepada kehinaan.

Celaan terhadap harta dunia :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14) قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (15) 

14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). 15. Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?.” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. ( Qs. Ali Imron )

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (29) ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى (30)

29. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. 30. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk [An-Najm ; 29-30]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ

وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Demi Allah, tidaklah dunia di akhirat kecuali seperti sesuatu yang dijadikan oleh jari salah seorang dari kalian -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di laut, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” ( HR. Muslim )

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

“Ketahuilah sesungguhnya dunia itu terlaknat dan segala isinya pun juga terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, dan orang yang alim atau orang yang belajar.” ( HR. Tirmidzi )

OBAT PENYAKIT RAKUS :

Obat dari penyakit rakus ada tiga, yaitu, sabar, ilmu dan amal. Tiga poin besar tersebut terkumpul dalam lima perkara.

  1. Amal.

Amal yang dimaksud adalah mengamalkan kesederhanaan dan qona’ah terhadap apa yang Alloh berikan, menghemat belanja dan memperbanyak infak dan sedekah. Jika seseorang cukup dengan satu pakaian maka hendaklah ia tidak membeli pakaian lagi, jika seseorang cukup makan dengan satu jenis maka ia tidak akan memakan berbagai jenis yang lain, itulah amalan qona’ah dan kesederhanaan yang akan menjadi obat dari penyakit rakus.

  1. Memendekan angan-angan

Apabila seseorang dimudahkan dalam suatu urusan maka seyogyanya ia tidak memperberat diri untuk mendapatkan yang lainya, tidak risau terhadap apa yang akan datang. Karena sesungguhnya jiwa rakus tidak akan mendatangkan dan menjamin rizki, sesungguhnya rizki seseorang telah ditakdirkan.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). ( Qs. Hud 6 )

  1. Menyadari bahwa rakus menjadikan ketergantungan kepada manusia

Orang yang rakus akan menyebabkan ketergantungan kepada manusia dan menghilangkan ketawakalan kepada Alloh, orang yang semakin rakus akan semakin memiliki ketergantungan kepada manusia.

  1. Menyadari bahwa perbedaan manusia mulia dengan hina adalah qona’ah

Jika kehidupan adalah harta, maka orang yahudi punya banyak harta, jika kehidupan adalah bersetubuh maka babi adalah yang paling suka bersetubuh. Jadi yang membuat manusia menjadi mulia adalah qona’ah dan tidak rakus terhadap dunia.

  1. Menyadari bahwa mengumpulkan harta sangat berbahaya

Ambisi terhadap harta kekayaan merupakan pintu berbagai macam kejahatan, setan akan memalingkan pandangan manusia kepada apa yang selalu diatasnya, kerakusan terhadap harta dan kedudukan membuka keinginan untuk merampok, mencuri harta orang lain. Tundukan pandangan kepada orang yang lebih rendah adalah solusi untuk menggapai kemuliaan qona’ah.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pandanglah orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih laik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah.”

MAROJI’ :

  1. Ihya’ ulumuddin Imam Al-Ghozali
  2. Minhajul Qoshidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi