Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Bukanlah sebaik-baik manusia yang tidak memiliki dosa, tetapi sebaik-baik manusia adalah yang sadar dengan perbuatan dosa kemudian bertobat kepada Alloh Ta’ala.
PERINTAH UNTUK BERTAUBAT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya) “ ( Qs. At-Tahrim 8 )
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“ Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” ( Qs. An-Nur 31 )
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“ dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” ( Qs. Al-Hujurot 11 )
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia bertaubatlah kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” ( HR. Ahmad no. 17173 )
اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ
“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi salah seorang dari kalian yang mendapatkan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang yang luas.” ( HR. Al-bukhori no. 5834 )
SYARAT PERTAUBATAN :
Taubat sendiri tidak akan diterima apabila tidak memenuhi persyaratanya. Jika perbuatan dosa itu dilakukan berkaitan dengan hak Alloh maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang bertobat :
- Melepaskan diri secara sungguh-sungguh dari perbuatan dosa dan maksiyat yang telah dilakukan, dalam artian bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
- Menyesali perbuatan dosa yang dilakukan.
- Bertekad tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut selama-lamanya, bahkan takutnya ia untuk terjerumus kepada perbuatan dosa tersebut seperti takutnya akan dimasukan kedalam api.
Jika perbuatan dosa melibatkan hak Adam, maka persyaratanya bertambah satu lagi :
- Melepaskan diri dari hak saudaranya tersebut, jika hal itu kaitanya dengan harta maka mengembalikan, jika berkaitan dengan tuduhan dan lain sebagainya maka meminta maaf darinya.
APA YANG HARUS DILAKUKAN ORANG YANG BERTAUBAT :
Rosululloh sholallohu alaihi wasalam bersabda :
مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
“Tidaklah seorang laki-laki melakukan perbuatan dosa, kemudian ia berdiri bersuci dan shalat, lalu ia meminta ampun kepada Allah kecuali Allah pasti akan mengampuninya.” ( HR. Tirmidzi no. 371 )
Kemudian hendaklah ia menyibukan diri untuk mengkafaroh ( menghapus ) dosa-dosanya tersebut dengan amal sholih.
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” ( HR. Tirmidzi no. 1910 )
Memfokuskan hati untuk bersungguh-sungguh memohon ampunan dari Alloh, lesan mengucapkan istighfar dan anggota badan melaksanakan amal ketaatan.
Yang harus diwaspadai adalah istighfar yang tidak bernilai, yaitu istighfar yang hanya diucapkan dengan lesan tanpa hadirnya hati didalamnya. Sebagian ulama salaf mengungkapkan,
الِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ تَوْبَةُ الْكَذَّابِينَ
“ Istighfar yang hanya diucapkan dengan lesan tanpa hadirnya hati adalah taubatnya para pendusta “
Seorang yang memohon ampun kepada Alloh hendklah menghadirkan hatinya dalam setiap ungkapan TANDA TAUBAT DITERIMA
pertaubatan yang diucapkan.
Diantara tanda-tanda diterimanya taubat adalah sebagai berikut :
- Ia akan berubah menjadi lebih baik sebagaimana ia belum berbuat dosa.
- Muncul rasa takut kepada Alloh dan tergelincir kepada perbuatan dosa, takut tersebut selalu melekat dalam hatinya sampai mati, sebagaimana firman Alloh :
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” ( Qs. Fushilat 30 ).
Perasaan takut itu menjadi kendali pada dirinya dari mengulangi perbuatan dosa sampai maut menjemputnya dan ia telah terbebas dari rasa takut tersebut.
- Hatinya hancur dan penuh penyesalan dan ketakutan
Rasa takut tersebut merupakan penjelasan dari Ibnu Uyainah terhadap firman Alloh :
لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَّا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ
“ Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur “ ( Qs. At-Taubah 110 )
Beliau menafsirkan bahwa hancurnya hati tersebut dengan taubat. Hancur dan takutnya hati tersebut dapat difahami, karena orang yang bertaubat kepada Alloh akan terbayang hukuman yang akan ditimpakan kepada dirinya sesuai kadar dosa yang dilakukan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam bertaubat sehingga diterima oleh Alloh Ta’ala, mari bermuhasabah apakan pertaubatan yang kita lakukan telah diterima atau belum.
MAROJI’ :
- Mausu’ah Al-Akhlak waz-zuhdi war-roqoiq Yasir Abdurrahman
- Muhtashor minhajul Qosidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
- Tazkiyatunnufus DR. Raghib As-Sirjani
- Manazilus-sairin Abu Isma’il Abdulloh bin Muhammad bin Ali Al-Anshori Al-Harowi
- Mauidhotul-mukminin min ihya ulumiddin Muhammad Jamaludin bin Muhammad Sa’id bin Qosim Al-Halaq Al-Qosimi