Oleh : Abdulloh Al-Hanif
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“ Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” ( Qs. Al-Furqon 63 )
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku lalim pada yang lain.” ( HR. Muslim no. 5109 )
Itulah beberapa dalil yang memerintahkan kita untuk bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) dan tidak sombong.
PENGERTIAN :
Tawadhu’ adalah tunduk terhadap kekuasaan Alloh, Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna tawadhu’, beliau menjawab, “ tawadhu’ artinya tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya serta mau menerima kebenaran itu dari siapapun yang mengucapkanya “.
Menurut Ibnu Atho’, “ tawadhu’ artinya mau menerima kebenaran dari siapapun. Kemuliaan ada dalam tawadhu’, maka siapa yang mencarinya dalam kesombongan, berarti ia seperti mencari air dalam kobaran api “.
TINGKATAN TAWADHU’ :
- Tawadhu’ terhadap agama
Maknanya adalah tunduk terhadap apa saja yang dibawa oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasalam tanpa berusaha untuk menyangkalnya. Hal ini dapat diraih dengan tiga cara :
- Tidak menentang sedikitpun baik dengan akal, kiyas, perasaan atau penyiasatan.
- Tidak mengatakan kepada satupun dalil agama dengan ucapan tidak relevan atau tidak tepat dan berbagai ungkapan penentangan yang lain.
- Tidak memelihara keinginan untuk menyangkal nash, jika keinginan itu masih mengeram maka ia tempatkan dirinya sebaik-baiknya dan berusaha menjauhinya.
- Meridhoi sesama muslim sebagai saudara, menerima kebenaran dari padanya dan bahkan mau menerima kebenaran meskipun itu datang dari musuhnya, juga menerima kebenaran baik dari orang yang disukai maupun orang yang tidak disukai.
- Tunduk sepenuhnya kepada Alloh, melaksanakan ibadah sesuai dengan kehendak Alloh bukan kehendak pribadi, tidak menunutut hak kepada Alloh dari amal yang dikerjakan karena amal yang ia kerjakan merupakan bentuk ibadah yang merupakan kewajiban dirinya kepada Alloh.
CIRI ORANG YANG TAWADHU’ :
- Tidak suka menonjolkan diri, karena menonjolkan diri supaya orang mengetahui keunggulan dan keberadaanya adalah salah satu sikap sombong, sedangkan menarik diri adalah sikap tawadhu’
- Memberikan tempat kepada orang alim. Jika ada orang alim yang datang maka ia berdiri dan mempersilakan duduk orang alim tersebut adalah sikap tawadhu’.
- Menyambut kedatangan orang-orang awam dengan wajah berseri, lemah lembut, memenuhi undanganya, membantu memenuhi kebutuhanya adalah sikap tawadhu’
- Mau berkunjung kepada orang yang tarafnya lebih rendah dan bukan hanya mau berkunjung kepada orang yang tarafnya lebih tinggi.
- Mau duduk bersama dengan orang-orang miskin, penyandang cacat, orang-orang sakit, berjalan dengan mereka adalah bentuk sikap tawadhu’
- Makan dan minum tanpa berlebihan, berpakaian pun juga tidak berlebihan sehingga tidak menampakan kesombongan.
KESIMPULAN :
Tawadhu’ atau rendah hati adalah sikap terpuji yang merupakan obat dari penyakit sombong. Semoga kita semua dianugerahi jiwa yang tawadhu’ seingga dapat menjadikan suasana lebih menjadi bahagia. Amin .
MAROJI’ :
- Minhajul qoshidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
- Minhajul muslim Abu bakar Al-Jaziri
- Madarijussalikin Ibnul Qoyyim Al-jauzi
- Manazilus-sairin Abu Isma’il Al-Harowi
- Ihya’ ulumuddin Imam Al-Ghazali