Oleh Abdulloh Al-Hanif :
Semua orang mencintai kekayaan dan kesenangan, karena begitulah tabi’at nafsu syahwat, nafsu syahwat akan menuntun manusia mencari nikmat menghindari sengsara, dimana ada peluang untuk bahagia disitulah manusia akan memiliki kecenderungan, sebaliknya apa-apa yang mengancam dan menimbulkan kesengsaraan dari sanalah manusia akan lari. Setan begitu lihai memainkan peran, ia selalu menutupi kebahagian yang dijanjikan Alloh dengan berbagai hal yang menakutkan, salah satunya adalah kemiskinan dan kefakiran. Setan selalu menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, apa bila ia akan bersedekah atau berinfak, setean datang dengan segudang rasa takut miskin dan menderita. Itulah yang menjadikan manusia kemudian memiliki sifat bakhil.
Untuk itu, bagi yang Alloh uji dengan kekurangan harta, hendaknya ia selalu mempertahankan qona’ah dalam menerima apa yang Alloh tetapkan baginya. Adapun yang Alloh uji dengan kekayaan, hendaklah ia membangun jiwa dan akhlak yang pemurah, tidak bakhil terhadap harta yang Alloh berikan.
TERPUJINYA DERMAWAN DAN TERCELANYA KEBAKHILAN :
سنن الترمذي ١٨٨٤: عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ سَعِيدِ بْنِ مُحَمَّدٍ وَقَدْ خُولِفَ سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ فِي رِوَايَةِ هَذَا الْحَدِيثِ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ إِنَّمَا يُرْوَى عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَائِشَةَ شَيْءٌ مُرْسَلٌ
Sunan Tirmidzi 1884: Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari menusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang bodoh yang dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yang bakhil.” Abu ‘Isa berkata: Ini merupakan hadits gharib tidak kami ketahui dari haditsnya Yahya bin ‘Araj dari Abu Hurairah kecuali dari haditsnya Sa’id bin Muhammad dan Sa’id bin Muhammad telah ditentang dalam periwayatan hadits ini dari Yahya bin Sa’id Al Anshari, Sebenarnya yang diriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dari ‘Aisyah merupakan hadits mursal.
Karenanya nabi sholallohu alaihi wasalam mengajari kita do’a berlindung dari kebakhilan :
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
dari Anas dia berkata: bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dengan do’a: “ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MINAL BUKHLI WAL KASALI WA ARDZALIL ‘UMURI WA ‘ADZAABIL QABRI WA FITNATIL MAHYAA WAL MAMAATI (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekikiran, kemalasan, umur yang menjadikan pikun, siksa kubur dan fitnah dunia dan fitnah kematian).”
Bakhil adalah penyakit yang harus diobati, jika tidak segera diobati maka ia akan terus menjalar dan menguasai diri sehingga sulit untuk diobati apabila telah parah.
Salman Al-Farisi berkata, “ jika orang dermawan meninggal dunia, maka bumi dan para malaikat penjaganya berkata, ya Robbi lepaskanlah urusan dunia dari hamba-Mu ini karena kedermawananya. Jika orang bakhil meninggal dunia, maka bumi berkata, Ya Robbi, halangilah orang ini dari surga, sebagaimana hamba-Mu ini menghalangi apa yang di tanganya dari keduniaan “
TERAPI PENYAKIT BAKHIL :
Untuk mengobati penyakit bakhil ini, kita harus mengetahui sebab musabab dari munculnya penyakit bakhil. Sebab dari munculnya penyakit bakhil adalah cinta harta, sedangkan cinta harta ini ada dua sebabnya :
- Cinta kepada nafsu, yang mana tidak dapat dicapai kecuali dengan memiliki harta dan harapan yang muluk-muluk. Jika ia tidak memiliki harapan yang muluk-muluk untuk diri sendiri, setidaknya dia memiliki harapan yang muluk-muluk untuk anaknya, hal itu termasuk dalam kategori berangan yang muluk-muluk.
- Cinta hanya semata kepada harta. Diantara manusia ada yang mempunyai harta melimpah, cukup untuk kebutuhanya sepanjang hidup, jika ia menumpuk terus hartanya, tidak mau membelanjakan dijalan Alloh, baik itu untuk sedekah maupun berinfak di jalan Alloh, maka itu termasuk bakhil yang sulit diobati. Perumpamaan orang ini adalah seperti orang yang mencintai seseorang, kemudian ketika utusan orang yang dicintai itu datang justru ia mencintai utusan orang tersebut. Dunia ini hanyalah utusan yang menghantarkan kepada kebutuhan, setelah ia mendapatkan dunia lantas ia lalai dengan kebutuhanya, ia silap dengan kehidupan dunia.
Cara mengobati penyakit tersebut adalah dengan melaksanakan kebalikanya. Cara mengobati penyakit cinta nafsu adalah dengan qona’ah dan sabar. Mengobati harapan yang muluk-muluk dengan mengingat kematian. Mengobati cinta kepada anak-anak dan masa depanya adalah dengan berfikir bahwa ada dibelakang mereka yang maha memberi rizqi. Jika anaknya sholih maka Alloh yang akan memeliharanya, dan jika anaknya fasik maka tidak ada yang dapat diharapkan darinya selain kedurhakaan.
Jika banyak hal yang dicintai di dunia, maka banyak pula musibah yang dirasakan karena tidak bisa mendapatkanya. Siapa yang mengetahui bencana harta, tentu ia tidak mau bersanding dengan harta. Siapa yang mengambil sekedar kebutuhanya dan menyimpan sekedar untuk kebutuhanya, maka dia bukanlah orang bakhil.
DERMAWAN TIDAK MENGURANGI HARTA :
Dari Abban bin Utsman ia mengatakan, seorang laki-laki bermaksud supaya Ubaidulloh bin Abbas mendapat kesulitan ( melarat ), lalu orang itu datang kepada pembesar-pembesar Quroisy, seraya mengatakan, “ Ubaidulloh mengundang kalian untuk makan pagi dirumahnya “. Maka datanglah mereka kepada Ubaidulloh bin Abbas sehingga memenuhi rumah beliau, kemudian Ubaidulloh bertanya, “ apa ini “ ?, lalu berceritalah mereka perihal undangan makan pagi tersebut, lalu Ubaidulloh memerintahkan pembantunya untuk membeli buah-buahan dan memasak untuk mereka, setelah jamuan usai, para tamu sudah kekenyangan dengan jamuan tersebut, Ubaidulloh lalu bertanya kepada pembantu-pembantunya, “ apakah kita setiap hari bisa seperti ini “ ?, mereka menjawab, “ ya, ada “, kemudian Ubaidulloh berkata, “ kalau begitu hendaklah mereka makan pagi di sini setiap hari “.
Harta yang kita dermakan tidak akan berkurang, kebiasaan berderma hendaklah kita galakan dan kita jaga, karena ketika Alloh telah memeprcayakan urusan orang banyak kepada kita, itu adalah amanah yang pasti dapat kita tunaikan tanpa mengurangi sedikitpun bagian kita.
MAROJI :
- Ihya ulumuddin Imam Al-Ghozali
- Minhajul Qosidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi