Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Muroqobah merupakan sarana diri kita semakin mendekat kepada Alloh Ta’ala, mencapai derajat yang mulia disisi Alloh yaitu derajat ihsan. Ihsan adalah sebuah rasa yang melekat pada diri seorang hamba akan kehadiran Alloh selalu dimanapun ia berada, bahkan kedekatan Alloh itu melebihi kedekatan apa saja di dunia. Seorang tidak akan dapat meraih ihsan ini sebelum ia berusaja untuk mendekat kepada-Nya.
PENGERTIAN DAN HAKIKAT MUROQOBAH :
Muroqobah artinya pengetahuan hamba secara terus menerus dan keyakinanya bahwa Alloh mengetahui dhohir dan batinya. Muroqobah nerupakan hasil pengetahuanya bahwa Alloh mengawasinya, melihatnya, mendengar perkataanya, mengetahui amalnya disetiap waktu dan dimanapun, mengetahui setiap hembusan nafas tidak ada sedikitpun yang yang lolos dari perhatian-Nya.
Muroqobah merupakan ubudiyah dengan asma’-Nya Ar-Raqib, Al-Hafidz, Al-Alim, As-Sami dan Al-Bashir , siapa yang memahami asma’ ini dan beribadah menurut ketentaunya, berarti ia telah sampai pada tingkat muroqobah.
Muroqobah artinya terus menerus menghadisrkan hati bersama Alloh, ia memiliki tiga derajat,
- Derajat pertama adalah muroqobah Alloh terhadap orang yang berjalan menuju kepada-Nya secara terus menerus dengan penuh pengaggungan dan berserah diri kepada-Nya dari segala beban yang diderita.
Jalan ini merupakan jalan utama bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada Alloh, ia harus menapaki jalan-jalan ibadah yang berupa perintah untuk dikerjakan dan larangan untuk ditinggalkan. Alloh akan mendekat kepada siapa saja yang menempuh jalan ini, maka siapa yang semakin giat dalam pengibadahan kepada Alloh lahir dan batin, maka ia akan seamakin dekat dengan Alloh.
- Derajat kedua, Muroqobah Alloh terhadap orang yang menentang hawa nafsunya untuk menyesuaikan dengan perintah Alloh. Menentang hawa nafsu bukanlah perkara ringan, orang yang dapat menentang keinginan syahwatnya guna dikendalikan supaya berjalan diatas kehendak Alloh merupakan usaha yang akan membuat Alloh mendekat kepadanya, sehingga usaha untuk melakukan muroqobah ( membangun kedekatan dengan Alloh ) akan cepat terwujud.
- Derajat ketiga, Muroqobah azal, yaitu menerima konskwensi tauhid yang merupakan sifat terdahulu bagi Alloh, mempersaksikanya dan memenuhi segala konskwensinya. Tauhid dan pengaggungan kepada Alloh hakikatnya bukan hanya sekedar ilmu yang dipelajari, akan tetapi ia merupakan pedoman yang harus diyakini, ditapaki dan diperjuangkan. Orang yang selalu mengaggungkan Alloh dalam tauhid maka ia akan menjadi orang yang selalu dekat kepada Alloh.
BUAH DARI MUROQOBAH :
Buah dari muroqobah sekaligus sebagai isyarat apakah usaha kita untuk melakukan muroqobah berhasil apa belum.
- Wara’
Wara’ adalah menjaga diri semaksimal mungkin secara waspada, dan menjauhi dosa karena pengagungan. Dengan kata lain, menjaga diri dari hal-hal yang haram dan syubhat serta hal-hal yang membahayakan semaksimal mungkin untuk dijaga.
Ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi Kholifah ia melihat permata milik istrinya yang merupakan pemberian dari ayahnya yaitu Abdul Malik bin Marwan, maka Umar bin Abdul Aziz berkata kepada istrinya “ aku tidak mau hidup bertiga dengan permata itu, kembalikanlah ke baitulmal “. Seorang Kholifah yang sangat berhati-hati terhadap harta rakyatnya.
- Lapang hati ( lembah manah )
Pernah suatu hari ada orang yang memesan baju kepada Imam Abu Hanifah, setelah baju pesanan ada kemudian Imam Abu Hanifah menghubungi orang tersebut. Ketika sang pemesan bertanya berapa harga bajunya, Imam Abu Hanifah menjawab, “ satu dirham saja”. Pembeli kaget tidak percaya, ia berkata “ anda pasti bercanda, bagaimana mungkin baju ini harganya Cuma satu dirham “ ?, Imam Abu Hanifah menjawab “ serius, baju itu aku beli dengan baju yang lain seharga dua puluh dinar dan satu dirham, baju lainya sudah laku dua puluh dinar tinggal satu itu berarti harganya tingga satu dirham, biarlah aku mendapat keuntungan persaudaraan “. Seorang Imam yang dapat melihat kesulitan orang lain dan berusaha memberikan kemudahan meski ia menanggung kerugian.
- Mengingat kematian
Ketika Fudhail bin Iyyadh bertemu dengan sorang tua, ia bertanya kepada orang tersebut, “ berapa umurmu ?”, orang itu menjawab “ tujuh puluh tahun “ , Fudhail berkata “ selama itu engkau berjalan kedapa Alloh dan hampir tiba “, orang itu berkata “ iya aku paham bahwa aku adalah hamba Alloh dan akan kembali kepada-Nya “, Fudhail berkata “ wahai yang merasa bahwa ia adalah hamba Alloh dan akan kembali kepada Alloh hendaklah ia tahu bahwa dihadapanya ada pemberhentian, siapa yang mengetahui bahwa dihadapanya ada pemberhentian maka hendaklah ia ketahui bahwa didepanya ada pertanyaan, dan siapa yang mengetahui bahwa akan ada pertanyaan maka hendaknya ia mempersiapakan jawaban “. Nasehat seorang ulama’ agar senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkanya.
- Amanah
Pada suatu malam Aslam, ajudan Umar bin Khottob menempelkan telinganya disebuah dinding, sayup-sayup terdengar pembicaraan dua orang wanita, rupanya dua orang wanita itu adalah ibu dan anak. Sang ibu berkata kepada anaknya “ mari kita campur saja susu ini dengan air “, anaknya menjawab “ bukankah Kholifah Umar melarangnya “, ibunya berkata “ Kholifah Umar tidak akan tahu “, anaknya menjawab “ demi Alloh aku tidak mau bermaksiyat kepada Alloh baik dalam keadaan ramai maupun sepi ibu “. Amanah seorang gadis untuk tidak berbuat curang.
PENUTUP :
Mari kita menngok kedalam diri kita sendiri, apakah kita telah memiliki sifat dan karakter yang merupakan tanda bahwa kita telah menjadi hamba Alloh yang dekat dengan-Nya. Semoga Alloh selalu memberi pertolongan kepada kita untuk dapat menempuh terjal jalan menuju ampunan-Nya sehingga kita layak dekat kepada-Nya. Amin
Rujukan :
- Madarijussalikin Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah bab Muroqobah
- Mausu’ah Al-Akhlaq waz-zuhud war-roqoiq Yasir Abdurrahman jilid 1 hal. 50 maktabah syamilah
- Mauidzotul-mukminin min ihya ulumiddin Muhammad Jamaluddin Al-Qosimi hal. 308 maktabah syamilah
- Manazilus-sairin Abu Isma’il Al-Harawi hal. 39 maktabah syamilah