MUHASABAH Website Administrator October 4, 2024

MUHASABAH

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“ Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” ( Qs. Ali Imron 30 )

Seringkali manusia lupa dari mana ia berasal dan kemana akhirnya kembali, ia berjalan mengarungi kehidupan dengan kebingungan dan kebimbangan lantaran tidak memiliki acuan yang jelas dan pasti, kehidupanya hanya dihabiskan untuk berburu kesenangan duniawi bahkan sampai ia tidak sadar dan mengerti apa sebenarnya kesenangan yang ia cari.

Ditengah kebimbangan dan kebingungan manusia, Alloh memberikan cahaya petunjuk, suluh yang terang benderang menerangi jalan siapa saja yang mau menempuhnya, cahaya terang itu adalah ajaran yang Alloh berikan kepada rasul-Nya. Siapa yang mengikutinya maka ia akan sampai kepada terminal kebahagiaan yang abadi , sebaliknya siapa yang tidak mau mengikutinya, maka akan terombang-ambing dalam kebimbangan, keraguan, kebingungan dan keputus asaan, sampailah ia pada muara kesedihan dan penderitaan yang tiada henti.

Setiap yang bernyawa pasti akan mati, dan kematian bukan akhir segalanya, tetapi kematian adalah babak baru kehidupan abadi diamana manusia akan mempertanggungjawabkan semua perilaku yang diperbuatnya di dunia, maka orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengambil dunia sebagai ladang untuk menyemai benih-benih amal yang akan ia panen kelak ketika masa hidup telah berakhir.

Ketika manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya, saat itulah ia sudah mulai bisa menerka, apa dan siapa dirinya sesungguhnya, dan akan kemana kira-kira ia akan ditempatkan.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“ Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula “ ( Qs. Az-Zalzalah 6-8 )

Menyesal memang selalu di penghujung, penyesalan didunia masih ada kesempatan untuk memperbaiki, penyesalah sesudah mati menjadi kesedihan yang abadi, maka dari itu muhasabah, mawas diri menjadi aktifitas rutin yang musti dilazimi oleh seorang muslim, yang meyakini akan adanya hari pemabalasan, yaumul hisab.

MACAM-MACAM MUHASABAH

Muhasabah ( mawas diri ) ada dua macam, muhasabah sebelum amal dan muhasabah setelah amal.

  1. Muhasabah sebelum amal

Sebelum melakukan aktifitas apapun atau perbuatan apapun sebaiknya merenung sejenak untuk memperhitungkan untung dan rugi, sebab akibat yang akan dituai jika perbuatan tersebut dilakukan. Inilah yang disebut muhasabah sebelum amal. Yaitu memperhitungkan kemungkinan sebab akibat yang akan didapat dari perbuatan yang dilakukan.

Seorang muslim tidak hanya sebatas berhitung secara duniawai semata, karena bagi seorang muslim dunia hanyalah ladang untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Apa yang akan dilakukan diperhitungkan dengan baik akan efek kebaikan dan keburukan di akhirat kelak, maka seorang muslim tidak akan ceroboh dalam bertindak, ia akan selalu menjaga diri dari melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kesengsaraan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Al-Hasan berkata : “ semoga Alloh merahmati seorang hamba yang apabila ia akan melakukan suatau perbuatan ia berhenti sejenak untuk berhitung, apabila perbuatanya untuk Alloh maka ia lanjutkan dan apabila perbuatanya untuk selain Alloh maka tidak ia lanjutkan “.

Ada empat langkah muhasabah sebelum amal, pertama, sebelum melakukan suatu pekerjaan dan target yang diinginkan, hendaklah berhitung terlebih dahulu apakah amal dan target tersebut mampu ia lakukan, jika ia berhitung mampu maka dikerjakan dan jika berhitung tidak mampu maka ditunda terlebih dahulu.

Kedua, jika ia mampu melaksanakan amal tersebut, ia berfikir ulang apakah amal tersebut memberi efek dunia semata ataukah akan memberi efek di akhirat.

Ketiga, jika amal itu hanya memberi efek di dunia semata maka ia tidak akan melaksanakan mengingat pertanggungjawaban yang berat kelak disisi Alloh, namun jika amal tersebut berefek baik di akhirat maka ia akan berfikir lagi, apakah amal tersebut banyak yang mendukung dalam artian memberi efek positif bagi banyak orang ataukah sebaliknya.

Keempat, jika amal yang ia kerjakan hanya berdampak positif bagi diri sendiri dan menimbulkan efek yang buruk bagi banyak orang maka tidak ia kerjakan ( ditunda ) namun jika amal tersebut memberi banyak maslahat bagi kehidupan sehingga banyak yang mendukung maka barulah ia kerjakan.

  1. Muhasabah setelah amal

Muhasabah setelah amal terbagi menjadi tiga :

Pertama : muhasabah dalam melaksanakan ketaatan kepada Alloh namun hak Alloh tidak terpenuhi disana ( ketaatan yang dilakukan tidak sempurna ), hak Alloh tersebut meliputi : ikhlas, nasehat untuk kembali kepada Alloh, mengikuti rosululloh, dan memperlihatkan nikmat Alloh sebagai bentuk kesyukuran kepada-Nya. Jika ada salah satu hak Alloh yang tidak terpenuhi berarti ada yang salah atau kurang tepat dalam pelaksanaan amal ketaatan tersebut. 

Misalnya orang yang melaskanakan shalat namun ia merasa tidak khusu’ dan gelisah, menunjukan bahwa hak Alloh untuk ikhlas dalam pelaksanaan shalat tersebut tidak terpenuhi, semestinya orang tersebut beristighfar memohon ampun dan mencoba menutupnya dengan shalat-shalat sunnah.

Kedua : muhasabah dalam setiap perbuatan yang bersifat haram atau melanggar larangan Alloh. Seseorang yang tersadar ketika melakukan perbuatan yang dilarang, misalanya ia terjerumus dalam praktek riba, kemudian ia perbaiki dengan meninggalkan praktek riba tersebut dan menutupnya dengan banyak bersedekah.

Ketiga : muhasabah terhadap perbuatan mubah ( perbuatan yang asalnya diperbolehkan dalam Islam ). Ketika ia melakaukan perbuatan yang mubah tersebut ia muhasabah apakah kepentingan dari perbuatan tersebut, apakah murni hanya untuk mencari kesenangan dan kenikmatan dunia apakah ada unsur sebagai jembatan untuk ketaatan kepada Alloh. 

Misalkan orang yang makan nasi, ia bermuhasabah setelah memakanya untuk kepentingan apa ia makan nasi, apakah untuk dapat bersenang-senang dengan melampiaskan hawa nafsu atukah dalam rangka dapat beribadah kepada Alloh.

NASEHAT PARA ULAMA’

Muhammad bi Wasi’ berkata : “ seandainya dosa-dosa itu memiliki bau, tak seorangpun akan kuat duduk bersamaku “.

Maimun bin Mihran berkata : “ seorang hamba tidak akan sampai pada derajat muttaqin hingga ia menghisab dirinya ( menghitung amalnya ) lebih keras dari penghitungan sekutunya ( dalam berbisnis ), dua orang yang bersyarikat akan saling menghitung setelah usaha dijalnkan “.

Al-Hasan berkata : “ orang mukmin adalah pemimpin bagi dirinya sendiri maka ia menghitung amal perbuatanya sendiri karena Alloh, sesungguhnya ringanya hisab pada suatu kaum dikarenakan mereka telah menghisab diri sewaktu di dunia, demikian pula beratnya hisab pada suatu kaum pada hari kamat nanti disebabkan, mereka mengambil suatu perkara  tanpa melakukan muhasabah terhadap amal dari perkara tersebut “.

Malik bin Dinar berkata : “ semoga Alloh merohmati orang yang berkata kepada dirinya sendiri, bukankah aku pelaku perbuatan ini ?, bukankah aku pemiliki barang ini ?, kemudian ia mencela dirinya ( atas keburukan yang ia lakukan tersebut ).”

Semoga Alloh senantias memberi ketabahan dan keluasan jiwa bagi kita semua sehingga kita dapat melihat sisi gelap diri kita sendiri dan sibuk memperbaikinya, meninggalkan mencari-cari sisi gelap saudara kita kemudian menghujat dan membeberkanya. Amin 

MAROJI’ :

  1. Ihya’ ulumuddin Imam Al-Ghazali
  2. Minhajul Qasidin Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  3. Bahrurraiq fiz-zuhdi wa raqaiq ( gizi hati versi terjemah ) DR. Ahmad Farid
  4. Tazkiyatunnafs DR. Ahmad Farid
  5. Madarijus-Salikin Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah