MENGENDALIKAN AMARAH Website Administrator October 4, 2024

MENGENDALIKAN AMARAH

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

سنن الترمذي ٣٥٠: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ مُوسَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي رَافِعٍ أَنَّهُ مَرَّ بِالْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ وَهُوَ يُصَلِّي وَقَدْ عَقَصَ ضَفِرَتَهُ فِي قَفَاهُ فَحَلَّهَا فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الْحَسَنُ مُغْضَبًا فَقَالَ أَقْبِلْ عَلَى صَلَاتِكَ وَلَا تَغْضَبْ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ كِفْلُ الشَّيْطَانِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي رَافِعٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ وَهُوَ مَعْقُوصٌ شَعْرُهُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَعِمْرَانُ بْنُ مُوسَى هُوَ الْقُرَشِيُّ الْمَكِّيُّ وَهُوَ أَخُو أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى

Sunan Tirmidzi 350: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Imran bin Musa dari Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi dari Ayahnya dari Abu Rafi’ bahwasanya ia pernah melewati Hasan bin Ali ketika Hasan sedang melaksanakan shalat. Hasan waktu itu menggelung rambutnya dan meletakkannya pada tengkuk, namun Abu Rafi’ mengurainya kembali. Maka Hasan pun berpaling kepadanya dengan marah. Abu Rafi’ berkata: “Kembalilah shalat dan jangan marah, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itu adalah tempat duduk setan.” Ia berkata: “Dalam bab ini juga ada riwayat dari Ummu Salamah dan Abdullah bin Abbas.” Abu Isa berkata: “Hadits Abu Rafi’ derajatnya hasan. Hadits ini diamalkan oleh ahli ilmu. Mereka memakruhkan seorang laki-laki shalat dengan menggelung rambutnya.” Abu Isa berkata: “Imran bin Musa namanya adalah Al Qurasyi Al Makki, ia adalah saudara Ayyub bin Musa.”

Sebagaimana telah dijelaskan dalam rubrik sebelumnya ( pintu-pintu masuk setan kedalam hati manusia ), bahwasanya marah merupakan salah satu pintu masuk setan kedalam hati manusia, orang yang marah maka ia akan dipermainkan oleh setan sebagaimana anak kecil yang memainkan bola.

DEFINISI MARAH

Secara bahasa marah atau الغضب berasal dari kata غضب-يغضب  yang bermakna kemurkaan dan gejolak dalam hati. Pengertian marah adalah sebuah gejolak jiwa yang dapat membawa kepada kebencian dan dendam. 

SEBAB MUNCULNYA MARAH

Sebab munculnya marah banyak sekali, diantaranya, kesombongan, kedengkian, meremehkan orang lain, mengolok-olok orang lain, bercanda yang berlebihan, berdebat, rakus terhadap harta, rakus terhadap pangkat, ujub dan lain sebagainya dari pada akhlak-akhlak tercela yang seyogyanya kita menjauhinya.

TERAPI MARAH

Berikut ini beberapa kiat menahan marah marah

  1. Berfikir dan mengingat tentang  keutamaan bagi siapa saja yang dapat menahan gejolak amarah, dan memaafkan, rosululloh begitu serius mengingatkan akan keutamaan menahan marah, menunjukan hal itu merupakan perkara yang sangat penting.

صحيح البخاري ٥٦٥١: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Shahih Bukhari 5651: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr yaitu Ibnu Ayyasy dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat?” beliau bersabda: “Janganlah kamu marah.” Laki-laki itu mengulangi kata-katanya, beliau tetap bersabda: “Janganlah kamu marah.”

  1. Takut terhadap balasan Alloh Ta’ala, jika kemarahanya tidak direda maka Alloh juga tidak akan mereda amarah kepadanya pada hari kiamat.

مسند أحمد ٦٣٤٦: حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا دَرَّاجٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا يُبَاعِدُنِي مِنْ غَضَبِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ لَا تَغْضَبْ

Musnad Ahmad 6346: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Darroj dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin ‘Amru, Ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa yang dapat menjauhkanku dari murka Allah Azza wa Jalla?” Beliau menjawab: “Janganlah kamu marah.”

  1. Memikirkan akibat yang didapat dari kemarahan yang tidak lain adalah permusuhan, dendam yang berkepanjangan. Padahal manusia tidak akan lepas dari musibah yang menimpa, dalam pada tertimpa musibah tidak ada orang yang akan menolong karena orang disekelilingnya dendam kepadanya.
  2. Membayangkan keburukan wajahnya ketika marah. Orang yang marah akan merubah raut wajah yang tadinya ceria berubah menjadi suram dan tidak mengenakan untuk dipandang.
  3. Merenungkan, siapa sebenarnya yang menghembuskan amarah dala dada. Stenlah yang telah menghembuskan api permusuhan dan dendam itu, maka jika seseorang menuruti amarahnya berarti ia telah menuruti perintah setan.
  4. Duduk tenang dan terus menghias dengan kemuliaan akhlak.

سنن أبي داوود ٤١٥١: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ دَاوُدَ عَنْ بَكْرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَبَا ذَرٍّ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهَذَا أَصَحُّ الْحَدِيثَيْنِ

Sunan Abu Daud 4151: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata: telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hind dari Abu Harb bin Abul Aswad dari Abu Dzar ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Jika salah seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri, hendakah ia duduk. Jika rasa marahnya hilang (maka itu yang dikehendaki), jika tidak hendaklah ia berbaring.” Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah dari Khalid dari Dawud dari Bakr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Dzar dengan membawa pesan hadits ini. Abu Dawud berkata: “Hadits ini adalah yang paling shahih di antara dua hadits yang ada.”

  1. Membaca isti’adzah ( ta’awudz ) meminta perlindungan kepada Alloh Ta’ala.

“ Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah “ ( Qs. Al-A’rof 200 )

  1. Berpindah posisi dari tempatnya semula.
  2. Tidak berbicara ( menahan luapan jiwa dengan mengumbar suara ).
  3. Berwudhu.

أَلَا إِنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ تُوقَدُ فِي جَوْفِ ابْنِ آدَمَ

“ Ketahuilah, kemarahan itu adalah bara api yang dinyalakan di rongga anak Adam “ ( HR. Ahmad dan Tirmidzi dhoif menurut Syaikh Albani )

Itulah kiat-kiat untuk mereda amarah yang membuncah dalam jiwa, teori ini begitu mudah kita baca, namun begitu sulit untuk kita amalkan, karena ketika seseorang telah terjebak dengan amarahnya, ia telah masuk dalam perangkap setan atau bahkan ia telah dikendalikan oleh setan. Terkecuali marah karena Alloh, ini merupakan kemarahan yang datang dari Alloh, indikasinya kemarahan semacam ini justru akan dilemahkan oleh setan. Misal, hati kita marah ketika nabi dihina, namun tiba-tiba setan berbisik, “ sudah maafkan saja, bukankah nabi sendiri seorang yang pemaaf “ ?. wallohu a’lam bisshowab.

MAROJI’ :

  1. Ihya’ ulumuddin Imam Al-Ghozali
  2. Minhajul Qosidin Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  3. Al-Wafi DR. Mustofa Al-Bugho
  4. Syarah Riyadhussholihin Syaikh Al-Utsaimin
  5. Panduan tarbiyah wanita sholihah Isham bin Muhammad Asy-Syarif