Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, tubuh manusia hakikatnya tersusun dari dua materi yaitu jiwa dan raga. Berpisahnya antara jiwa dan raga mengakibatkan kematian, kematian itu sendiri merupakan bukti bahwa memang diri kita terseusun dari jiwa dan raga.
APA ITU JIWA ?
Menurut Sayid Sabiq jiwa ( nafs ) dengan ruh itu adalah sama. Adapun dalam Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzibi Syarhi Tohawiyah dijelaskan, bahwa jiwa ( nafs ) itu lebih kepada sebutan ketika masih melekat dengan badan, sedangkan ruh adalah sebutan ketika telah keluar dari badan. Sedangkan pengertian ruh adalah, sebuah materi cahaya yang tinggi, yang lembut dan bergerak, menyebar keseluruh bagian tubuh, ia menjalar laksana minyak dalam sumbu, dan api dalam arang. Jika anggota badan seseorang baik maka ia akan dapat menerima aliran ruh tersebut, dan jika anggota tubuh tidak baik atau rusak maka ia tidak akan dapat menerima aliran ruh tersebut, dan apabila tubuh sepenuhnya sudah tidak mampu menerima aliran ruh ini maka ia akan mengalami kematian. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya :
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. ( Qs. Az-Zumar 42 )
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya ( Qs. Al-An’am 93 )
MACAM-MACAM JIWA
- Jiwa amarotu bissu’ ( yang memerintahkan keburukan )
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“ Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” ( Qs. Yusuf 53 )
Ini merupakan jiwa yang tercela, jiwa yang selalu mengajak kepada kehancuran, memerintahkan kepada keburukan dan penyimpangan lainya.
- Jiwa lawwamah ( selalu menyesal )
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“ dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” ( Qs. Al-Qiyamah 2 )
Jiwa ini merupakan jiwa yang selalu menyesal, menyesal apabila melakukan keburukan, dan menyesal kenapa kurang berbuat kebaikan.
- Jiwa mutmainah ( tenang )
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ، ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً، فَادْخُلِي فِي عِبَادِي، وَادْخُلِي جَنَّتِي
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. ( Qs. Al-Fajr 27-30 )
Sebenarnyalah jiwa itu hanya satu, adapun disebut ada tiga macam dalam Al-Qur’an, itu merupakan sifat dari jiwa itu sendiri. Apabila jiwa menerima keimanan maka ia akan menjadi jiwa yang tenang ( mut mainah ), jika jiwa telah menikmati kemaksiyatan maka jadilah ia jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan, demikian halnya, apabila jiwa itu selalu terjerumus dalam kemaksiyatan namun ia selalu menyesalinya, maka ia akan menjadi jiwa yang lawwamah, yang akan mencela dan menyesali perbuatanya.
KESIMPULAN :
Jiwa adalah dzat yang sejatinya menjadi raja dalam diri kita, jiwa ini harus kita kendalikan supaya ia dapat memerintah tubuh kita dengan kebaikan. Adab merupakan asupan gizi yang akan membentuk jiwa kita, jika kita selalu menjaga adab yang mulia, maka jiwa kitapun akan mulia. Jika adab itu tidak kita jaga, jiwa kita akan menjadi durhaka kepada Alloh. Masih baik, jika jiwa kita selalu menyesali setiap keburukan yang dilakukan oleh jasad kita.
Jasad sejatinya hanyalah wadah yang dilengkapi dengan berbagai sarana, kelangkapan sarana itulah yang kerap kali kurang dapat dimanfaatkan oleh jiwa kita, sarana yang mestinya dipergunakan untuk memupuk bekal pulangnya jiwa kita ke akhirat, justru sering kita salah gunakan. Semoga Alloh senantiasa menuntun jiwa kita untuk selalu ta’at dan ingat kepada-Nya. Amin .
MAROJI’ :
- Al-Aqoid Al-Islamiyah Sayid Sabiq 1/236 maktabah syamilah
- Al-Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzibi Syarhi At-Thohawiyah Al-Imam Ali bin Abil-Izz Al-Hanafi.
- Ihya ulumuddin Imam Al-Ghozali