Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Mengorek keburukan orang lain sangatlah mudah, dalam waktu singkat sederet karakter buruk dan kesalahan orang lain dapat kita sebutkan, namun mencari dan mengakui akan keburukan diri sendiri bukanlah perkara mudah. Namun begitu, orang yang ingin menjadi sempurna sebagai hamba yang bertakwa semestinya menhelisik keburukan jiwanya agar ia dapat memperbaikinya, mustahil seorang akan dapat mengobati penyakitnya jika ia sendiri tidak sadar bahwa dirinya sakit. Penyakit jiwa tidaklah sama dengan penyakit badan, jika penyakit badan yang bersangkutan akan langsung merasakan, akan tetapi penyakit jiwa justru orang lain yang lebih dulu merasakan.
Imam Al-Ghazali memberikan empat jalan yang dapat ditempuh bagi siapa saja yang ingin menelisik keburukan jiwanya, empat jalan tersebut adalah :
- Bermajlis dengan syaikh yang memberikan petunjuk tentang keburukan-keburukan jiwa kita. Dlam kata lain kita berguru kepada seorang guru yang dapat membimbing kita, meluruskan kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, menuntun kita untuk selalu menapaki jalan kebaikan, menegur kita apabila kita berjalan di jalan yang keliru.
- Berteman dengan teman yang jujur, teman yang tidak hanya kita harapkan pujianya, namun lebih dari itu teman yang dengan tulus mau mengingatkan diri kita.
Umar bin Khattab berkata : “ semoga Alloh merohmati orang yang mau menunjukan aib ku “.
Pernah suatu hari beliau bertanya kepada Hudzaifah : “ engkau adalah orang yang memiliki rahasia rosululloh terkait dengan orang-orang munafik, apakah engkau melihat ada padaku tanda-tanda munafik itu “?, beliau, Umar bertanya kepada Hudzaifah dalam posisi beliau sebagai penguasa yang berkuasa dan berkedudukan tinggi waktu itu.
Dawud At-Thoi menyendiri dari manusia, kemudian dikatakan padanya, “ kenapa ia tidak mau bergaul dengan manusia “, maka ia menjawab : “ bagaimana aku akan bergaul dengan orang-orang yang menutupi keburukanku dariku “.
Begitulah sikap para ulama’ salaf, mereka menjadikan aib mereka ibarat ular atau kalajengking yang berbisa, jika ada orang yang mengingatkan, bahwa ada dibalik bajunya ular atau kala jengking maka ia pasti akan sibuk untuk menghilangkan ular atau kala jengking tersebut atau bahkan akan membunuhnya.
Namun orang yang kurang akal terkadang menjadikan sesorang justru marah jika diingatkan bahwa dibalik bajunya ada kalajengking atau ular. Demikianlah bashiroh kita, akal sehat kita terkadang buta karena tertutup oleh hawa nafsu dan dosa-dosa, orang yang berniat menyelamatkan kita justru kita anggap sebagai musuh yang membenci kita.
- Memanfaatkan lisan musuh untuk mengetahui aib diri. Musuh memang berbahaya, orang yang memendam dendam, dengki memang perlu sikap waspada, namun terkadang orang yang membenci kita, dapat kita ambil faidahnya, pasalnya, kedengkian dan dendam akan menggiring seseorang untuk terus mengorek keburukan pada diri kita, bahkan sekcil lobang jarumpun akan ia kejar, hingga tidak ada satupun keburukan yang tidak ia beberkan.
Ujaran-ujaran kebencian, cacian, hinaan, celaan, dari orang yang benci dan dengki dapat kita manfaatkan untuk menelisik keburukan jiwa yang terpancar pada kepicikan perilaku kita, dari sana kita bisa memperbaiki segala keburukan tersebut, dengan demikian kita tidak akan bertambah buruk dengan cacian, hinaan dan ujaran, akan tetapi justru menjadikan kita semakin baik.
- Bergaul dengan manusia, melihat segala keburukan orang lain, dengan melihat keburukan orang lain maka kita akan menjadi tahu bahwa perilaku tersebut tidak baik sehingga kita berusaha untuk menjauhinya. Hakikatnya orang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainya. Seseorang dapat melihat aib dirinya dengan melihat aib orang lain. Ia jadi mengerti mana tabiat yang baik dan mana tabiat yang hanya mengikuti hawa nafsu.
Dikatakan kepada nabi Isa alaihissalam : “ siapa orang yang mengajarkan adab kepadamu “?, ia pun menjawab “ tidak ada seorangpun, hanya saja saya melihat kebodohan yang dilakukan oleh orang bodoh, sehingga saya berusaha menjauhinya “
Begitulah, memperhatikan perilaku, perbuatan orang lain berikut akibat yang didapat akan menjadikan diri kita semakin berhati-hati dari keburukan-keburukan jiwa kita sekaligus dapat meningkatkan kebaikan-kebaikan jiwa dan perilaku kita.
Orang bijak bukanlah yang banyak memberi nasehat kepada orang lain, akan tetapi orang bijak adalah orang yang mengukur orang lain dengan dirinya. Nasehat yang baik bukanlah untaian kata-kata, akan tetapi nasehat sebenarnya adalah perilaku baik kita. Teman yang baik bukanlah yang gemar memuji, akan tetapi teman sebenarnya adalah yang khawatir akan keterjerumusan kita. Semoga Alloh memberikan jiwa yang baik kepada kita dan kemudahan untuk selalu memperbaikinya. Amin
Disarikan dari ihya ulumuddin Imam Al-Ghazali