Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Ungkapan “ belum sadar “ sering kali disematkan untuk para pelaku dosa dan ma’siyat. Ungkapan ini mengandung maksud, bahwa orang yang bersangkutan belum menyadari akan keberadaan dirinya sebagai hamba Alloh yang meskinya berbuat sebagaimana yang diperintahkan oleh Alloh sang penciptanya.
Terkadang orang tersadar dari perbuatan dosa dan maksiyatnya setelah Alloh berikan teguran keras, dia tersentak dan menyadari kesalahan dan osanya setelah musibah menimpanya, penyakit menggerogotinya atau ekonomi yang tumbang, harta ludes tak tersisa. Meskipun ada juga manusia yang tidak juga sadar meskipun telah disapa oleh sang pencipta dengan keras, mereka adalah orang yang telah mati hatinya.
Menyadari kesalahan tentunya lebih baik dari pada harus diingatkan, namun seringnya justru kita lalai oleh berbagai kenikmatan yang menghanyutkan, bagaimanakah caranya supaya kita selalu terjaga dan sadar ?, ada beberapa cara yang dapat kita tempuh
- Menyibukan hati untuk selalu mensyukuri nikmat
Hati yang sibuk untuk bersyukur akan selalu ingat kepada dzat yang telah memberi, ia tidak akan lalai dan abai terhadap setiap kenikmatan yang didapat, malu rasanya kepada yang memberi nikmat kalau kenikmatan yang diterima justru dipergunakan untuk bermaksiyat, melawan dan menyakiti sang pemberi.
Hati yang selalu bersyukur ditopang oleh cahaya akal, orang yang mampu mengkondisikan akalnya seiring dengan fitrah maka ia akan mendapatkan ketenangan jiwa dalam kesyukuran kepada Alloh, sebaliknya orang yang akalnya tertutup kesombongan dan syahwat, ia akan sulit mendapatkan manisnya kesyukuran kepada sang pencipta.
Terkadang Alloh mengirimkan kilatan cahaya dalam hati kita, kilatan hidayah yang membangunkan kita dari keterlenaan jiwa, orang yang mampu menangkap dan mengikuti kilatan cahaya itu maka ia akan berjalan diatas jalan keridhoan dan ketakwaan. Sebaliknya orang yang tidak mempedulikanya , maka ia akan diombang-ambingkan dalam lautan kesesatan yang semakin dalam. Hati yang berjalan diatas cahaya hidayah akan melihat dikanan dan kiri sepanjang perjalanan dipenuhi dengan kenikmatan yang telah Alloh berikan. Sebaliknya hati yang gelap hanya bisa menangkap pekatnya malam yang kelam, hatinya diliputi kecemasan dan kegundahan.
Terkadang manusia akan dapat merasakan nkmatnya pemberian Alloh dengan mengmabil pelajaran dari kisah yang dialami oleh saudaranya, kisah yang menyengsarakan lagi menderita, denganya ia menjadi sadar bahwa betapa banyak Alloh telah limpahkan karunia keopadanya maka sepantasnyalah ia bersyukur kepada Alloh.
- Mengambil hikmah dari akibat perbuatan dosa
Perbuatan dosa yang terkait dengan hak manusia akan berujung kepada hukuman, minimal penjara, denda bahkan tidak sedikit yang dihukum mati atas perbuatan yang dilakukan.
Perbuatan dosa yang terkait dengan Alloh, terkadang ditimpakan kepadanya adzab yang pedih berupa penyakit, hancurnya bisnis, dan yang paling pedih adalah siksa di neraka.
Jika orang selalu mengingat dan mengambil hikmah daru perbuatan dan akibat yang akan ditanggung, maka pasti ia akan selalu ingat kepada Alloh dan selalu memohon ampun kepada-Nya, menjauhi setiapa perbuatan dosa baik kepada sesama makhluk-Nya maupun langsung kepada-Nya.
Menjunjung tinggi kebenaran adalah pedoman dimana manusia akan dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, menyadari akan keberadaan diri dihadapan Alloh dan makhluk-Nya, membenarkan dan meyakini ancaman-Nya merupakan pilar yang kokoh untuk dapat mengambil pelajaran terhadap akibat perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia.
- Membangun kesadaran dan selalu mengingat bahwa hakikatnya waktu semakin berkurang,
Kehidupan adalah perjalanan menuju kematian, semakin lama manusia mengenyam kehidupan berarti semakin dekat ia kepada kematian.
Orang dapat sadar akan cepatnya perjalanan waktu yang ia lalui dengan melaksanakan hal-hal yang mampu mengingatkanya, hal-hal itu diantaranya, rajin mendengarkan ilmu dan mempelajarinya. Banyak orang yang tersadar akan pentingnya masa muda untuk belajar mayoritasnya adalah orang-orang tua, yang notabene sudah dekat dengan kematian ( dalam perhitungan manusiawi ), terus menerus melaksanakan kebaikan yang menjadi tuntutan ilmu dan selalu mendekatkan diri kepada para ulama’ adalah sarana untuk selalu sadar bahwa hidup ini amatlah singkat, masih banyak hal yang belum kita ketahui, masih banyak amal yang belum kita kerjakan padahal usia semakin merambah senja.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Kesadaran akan membawa manusia kepada jalam kebahagiaan yang hakiki dan abadi, sebaliknya tersesat akan mengantarkan ke jurang penderitaan dan neraka yang menyala. Masing-masing kita telah diberi jatah umurnya, sadarilah sebelum semuanya menjadi sia-sia. Semoga Alloh selalu menolong kita semua untuk tetap berada di jalan-Nya. Amin .
Disarikan dari kitab manazilussairin Abu Ismail Abdulloh bin Muhammad bin Ali Al-Anshari Al-Harawi ( semoga bermanfaat )