Oleh : Abdulloh Al-Hanif
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
“ Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” ( Qs. Fathir 32 )
Ayat tersebut membagi umat yang menerima seruan Al-Qur’an dalam hal ini berarti umat Islam, menjadi tiga tingkatan :
- Dzalimu li nafsihi ( orang yang mendzalimi diri sendiri ) merupakan kelompok orang awwam.
Kelompok pada tingkatan ini adalah yang tidak sempurna dalam melaksanakan kewajiban dan masih sering melaksanakan perkara yang haram.
- Muqtasid ( kelompok pertengahan )
Adalah kelompok yang telah mampu melaksanakan hal yang wajib dengan baik, meninggalkan hal yang haram, tetapi sering meninggalkan perkara yang sunnah dan sering terjerumus dalam perkara yang makruh.
- Sabiqun bil khairat bi idznillah (yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah ) kelompok orang khusus.
Adalah kelompok orang yang telah mampu melaksanakan segala yang wajib dan sunnah, meninggalkan segala yang haram dan makruh serta mampu meninggalkan sebagian yang mubah.
Seluruh kelompok yang tersebut diatas adalah manusia semata yang tidak lepas dari dosa dan kesalahan, meskipun tingkatan dosa masing-masing berbeda, orang awwam dosa yang dilakukan adalah melakukan hal yang haram dan melalaikan hal yang wajib, sedang kelompok pertengahan kesalahan yang sering dilakukan adalah kurang perhatian dalam hal yang makruh, adapun kelompok khusus kesalahanya adalah tidak disiplin dalam perkara yang mubah.
Dosa orang awwam yang sering meninggalkan kewajiban dan melakukan yang haram dapat menjatuhkan mereka kepada kekufuran, sedangkan kesalahan kelompok pertengahan dengan tidak memperhatikan perkara makruh bisa menjatuhkan diri pada derajat awwam, demikian pula kelompok khusus yang tidak disiplin terhadap yang mubah bisa menjatuhkan diri kepada derajat pertengahan.
Menilik kadar perbuatan dosa yang dilakukan berbeda maka kendala dalam bertaubat pun tidak sama, berikut akan kita bahas tentang kendala bertaubat masing-masing kelompok, sehingga pembaca dapat mengetahui kira-kira berada pada kelompok yang mana.
KENDALA BERTAUBAT ORANG AWWAM
Biasanya orang awwam merasa bahwa dosanya terlalu banyak, sehingga ia berusaha untuk menambalnya dengan memperbanyak ibadah pula, tidak sedikit dari mereka ini tiba-tiba menjadi orang yang sangat rajin beribadah, mulai dari shalat wajib, sunnah, puasa wajib, puasa sunnah sedekah dan lain sebagainya. Akhirnya pada suatu titik ia akan merasa jenuh dan berat karena beban ibadah yang begitu banyak yang telah ia buat target dan jadwalnya. Hal ini akan menimbulkan tiga kerusakan :
Pertama, ingkar terhadap nikmat
Banyaknya ibadah yang dilakukan ternyata tidak membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram, seluruh ibadah yang dilakukan kering, ia membaca Al-Qur’an mengejar target bacaan tetapi tidak mendapatkan kedamaian, ia shalat tahajud tiap malam tetapi hatinya tetap saja gersang. Akhirnya ia putus asa, dan dalam titik ini tidak sedikit oarng awwam yang kemudian kembali kepada perbuatan dosanya lagi dan meninggalkan ketaatan yang dilakukan.
Kedua, menuntut hak kepada Alloh
Karena ia telah melakukan banyak amal ketaatan maka ia merasa diriny puny hak kepada Alloh, seolah Alloh harus memasukan ia kedalam surga karena ia telah melakukan banyak ibadah dan ketaatan, padahal seseorang tidak akan masuk surga hanya karena amal ketaatanya, akan tetapi seseorang masuk surga karena keridhaan Alloh.
Ketiga, merasa tidak membutuhkan ampunan dari Alloh.
Karena ia merasa punya hak kepada Alloh maka ia tidak merasa membutuhkan ampunan Alloh, padahal ampunan itulah sebenarnya yang harus ia cari.
Solusi, ibadah bukanlah kerja borongan dan hanya sekedar amalan fisik, tetapi lebih kepada hadirnya hati dalam pelaksanaanya, shalat dua rekaat dengan khusyu’ lebih baik dari pada shalat sepuluh reka’at akan tetapi hanya sekedar mengejar target jadwal. Membaca Al-Qur’an satu lembar dengan penghayatan lebih bermakna dari pada satu juz sekedar lalu. Intinya, ibadah itu harus dihayati dengan demikian akan merubah manusia dari karakter buruk kepada baik dari tingkatan awam menuju kepada tingkatan pertengahan.
Diantara ciri dari orang awam yang gagal dalam bertaubat adalah munculnya kesombongan diri bahwa dirinya adalah orang yang paling banyak beribadah dan paling baik, sedangkan orang lain tidak lebih baik dari pada dirinya. Sedangkan ibadah yang benar tidak akan pernah menghasilkan kesombongan.
KENDALA TAUBAT ORANG PERTENGAHAN
Menilik dari keterperosokan orang pertengahan adalah kedalam perkara yang makruh, maka yang sering menjadi kendala dalam bertaubat orang pertengahan adalah menganggap sedikit durhakanya kepada Alloh, ketika ia melakukan perbuatan yang makruh, hatinya merasa bahwa perbuatan tersebut masih sangat kecil dibandingkan amal dan ibadah yang dilakukan, akhirnya ia kesulitan untuk meninggalkan perkara yang makruh tersebut.
Solusinya adalah, jangan pernah menganggap bahwa amal ketaatanmu selama ini sangat besar, karena ketika pengaggungan terhadap amal dan ketaatan maka pada sat itulah amal dan ketaatan itu menjadi kecil nilainya di hadapan Alloh, menatap perbuatan makruh adalah perkara yang besar dan melihat amal ketaatan yang dilakukan masih sangat kecil, membangun rasa dan perasaan bahwa bisa jadi dari amal makruh itu hilang keridhaan Alloh dari dirinya.
KENDALA TAUBAT ORANG KHUSUS
Kendala terbesar orang-orang khusus adalah membuang waktu sia-sia dengan melewatkanya tanpa beribadah kepada Alloh, yang menjadi sebab utamanya adalah masih adanya ketertarikan terhadap dunia sehingga ia sulit untuk meninggalkan amal yang sia-sia, waktu berlalu begitu saja tanpa melakukan ketaatan kepada Alloh.
Solusinya, taubat tidak akan dianggap sempurna kecuali dengan membebaskan hati dari maksud-maksud selain Alloh, kemudian mengetahui alasan dari taubat tersebut dan kemudian bertaubat, dengan begitu aia akan dapat memfokuskan kecintaanya hanya kepada Alloh, tidak menyekutukan-Nya, senantiasa mengharap pertolongan-Nya, sehingga segala yang ada pada dirinya adalah untuk Alloh dan ia berjalan bersama Alloh, yang demikian itu tidak mungkin bisa dilakukan kecuali oleh orang yang hatinya sudah dikuasai cinta kepada Alloh, diisi dengan pengagungan kepada-Nya, kepasrahan dan ketundukan hanya kepada-Nya.
PENUTUP
Pada posisi manakah diri kita ?, mari mencoba untuk meraba kemudian memperbaikinya. Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memudahkan kita untuk bertaubat kepada-Nya, tentunya dengan taubat yang sungguh-sungguh dan segera menyingkirkan rintangan serta kendala dalam bertaubat. Amin
MAROJI’ :
- Tafsir Al-Qur’anul adzim Ibnu Katsir
- Madarijus-salikin Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah
- Manazilussairin Abu Isma’il bin Muhammad bin Ali Al-Anshari Al-Harawi