Oleh : Abdulloh Al-Hanif
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“ Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” ( Qs. Az-Zumar 54 )
Barangkali banyak orang yang telah sadar melakukan keburukan yang membangkang kepada Alloh Ta’ala, namun banyak pula yang belum bisa kembali ke jalan Alloh Ta’ala, mereka masih terperangkap dengan perbuatan dosa yang telah lama mengurungnya.
Pada pembahasan kali ini, penulis ingin menyajikan sedikit perihal inabah atau kembali kepada Alloh Ta’ala.
PENGERTIAN INABAH
Syaikh bin Baz : “ inabah maknanya adalah, kembali kepada Alloh, taubat kepada-Nya, dan istiqomah dalam keta’atan kepada-Nya.
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaziri : “ inabah kepada Alloh maknanya adalah, kembali ta’at kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya “
Syaikh Al-Utsaimin : “ inabah adalah kembali kepada Alloh Ta’ala dengan menegakan ketaatan kepada-Nya, menjauhi perbuatan ma’siyat, inabah itu pengertianya dekat dengan taubat, hanya saja ia lebih mendalam karena terasa didalamnya penyandaran diri sepenuhnya kepada Alloh dan tidak terjadi inabah itu kecuali hanya kepada Alloh “
MACAM-MACAM INABAH
Imam Ibnul Qoyyim menyebutkan, bahwa inabah ada dua macam :
- Inabah kepada rububiyah Alloh.
Inabah kepada dzat Alloh sebagai sang pencipta dan pengatur segalanya, inabah jenis ini dilakuakan oleh semua makhluk Alloh, baik itu yang muslim maupun yang kafir, yang baik maupun yang jahat. Inabah seperti inilah yang disebut dalam firman-Nya :
وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
“ Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya,” ( Qs. Ar-Rum 33 )
Itulah barangkali yang sering terjadi kepada kebanyakan manusia, ketika ia dihimpit kesusuahan dan musibah maka secara reflek ia segera menyebut Alloh dan kembali kepada-Nya, namun apapbila musiabh telah usai ia akan kembali kepada kemaksiyatan yang dilakukan.
- Inabah kepada uluhiyah Alloh
Inabah jenis ini adalah inabah kepada ketuhanan dan peribadatan kepada-Nya. Ini adalah inabah para wali Alloh, yaitu inabah ubudiyah dan cinta, yang mencakup empat macam :
- Cinta
- Tunduk
- Menghadapkan diri kepada-Nya
- Berpaling dari selain-Nya
Tidak ada sebutan Munib ( orang yang inabah ) kecuali jika ia telah berhasil menghimpun empat perkara tersebut.
MERAIH INABAH
Sulit memang meraih inabah yang hakiki, yaitu inabah kepada uluhiyah Alloh, dimana inabah jenis ini melibatkan seluruh komponen yang dimiliki oleh manusia, yaitu hati, akal, nafsu dan fisik. Untuk meraihnya maka harus berusaha mengerahkan seluruh komponen tersebut.
- Inabah hati dapat diraih dengan membangunkecintan kepada Alloh Ta’la semata, merendahkan diri dihadapan-Nya, tidak sombong merasa diri mampu segalanya. Menghambakan diri dan merasa tidak mampu kecuali atas pertolongan-Nya.
Orang yang mampu menempa hatinya untuk selalu menghamba kepada Alloh, menjauhi segala sifat sombong, angkuh, adigung, adiguna dan adikuasa, akan dapat meraih inabah batin yang akan menjelma menjadi ketenangan jiwa dan ketentraman.
- Inabah akal, inabah akal dengan menggunakanya untuk melaksanakan perintah Alloh, mencari kecintaan-Nya, meninggalkan larangan-Nya serta berserah diri kepada ketetapan hukum-Nya, menjauhi pikiran yang menimbulkan syubhat ( keraguan ) terhadap-Nya.
Pada hakikatnya, akal adalah alat untuk merenungkan dan memikirkan ayat-ayat Alloh sehingga dapat menemukan kebesaran Alloh, mengenali Alloh dengan memperhatikan dan mengkaji ayat-ayat tersebut. Akal dikatakan sehat apabila fungsi tersebut masih dimiliki, sebaliknya jika akal hanya digunakan untuk memperturutkan hawa nafsu semata, mengingkari keberadaan Alloh atau untuk menolak hukum-hukum-Nya maka sejatinya akal seperti itu tidak lagi dikatakan sebagai akal yang sehat.
Akal yang tunduk kepada perintah akan menemukan kebijaksanaan dan hikmah yang luar biasa dari setiap ketetapan hukum Alloh sehingga melahirkan ketenangan batin dan pikiran, sebaliknya akal yang angkuh lagi sombong justru akan menjadikan pemiliknya terjebak kepada keraguan dan ketidak pastian yang menyengsarakan.
- Inabah nafsu. Inabah nafsu dapat diwujudkan dengan berserah diri kepada Alloh, melepaskan segala keburukan hawa nafsu, meninggalkan akhlak-akhlak yang tercela dan keinginan-keinginan buruk dan mengarahkan nafsu itu kepada pelaksanaan perintah dan tunduk kepada-Nya.
Perjuangan terberat bagi manusia sejatinya adalah memerangi hawa nafsunya sendiri, hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan, brmaksiyat kepada Alloh dan melanggar larangan-Nya. Maka menundukan hawa nafsu maknanya adalah, memaksanya untuk selalu berjalan diatas rel perintah Alloh dan tunduk patuh kepada perintah tersebut. Siapa saja yang dapat mengendalikan hawa nafsunya berjalan diatas kebenaran maka ia akan mendapatakan kehidupan yang tenang dan tidak diliputi ketakutan.
- Inabah jasad. Inabah jasad dapat diwujudkan dengan melaksanakan segala perintah baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Jasad sering dirundung rasa malas, untuk menundukanya maka harus dipaksa dan dilatih sehingga jasad menjadi kuat dalam beribadah, meninggalkan banyak makan yang membuat malas dan membiasakan diri untuk melaksanakan segala perintah. Jasad yang selalu dibawa menghadap kepada Alloh akan mendapatkan kesehatan, sebaliknya jasad yang selalu dipergunakan untuk bermaksiat akan mudah sakit dan rapuh.
KESIMPULAN
Dari apa yang telah dibahas, dapat kita simpulkan bahwa inabah tidak hanya sekedar terhadap rububiyah tetapi bagaimana dapat meraih inabah terhadap uluhiyah Alloh, sehingga pelakunya tidak temporal dalam berinabah akan tetapi dapat istimrar terus menerus, tentunya perlu latihan, ketekunan, keuletan dan kesabaran sehingga seluruh komponen yang dimilki dapat dibawa menghadap sepenuhnya kepada sang Khaliq yang maha segalanya. Amin
MAROJI’ :
- Madarijussalikin Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah
- Aisarut-Tafasir Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaziri
- Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah Syaikh bin Baz
- Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah Syaikh Al-Utsaimin
- Mabahits Al-Aqidah fis-surah Az-Zumar Nashir bin Ali Ayyid Hasan Asy-Syaikh maktabah syamilah.