Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Sebagaimana telah disebutkan dalam rubrik pintu masuknya setan ke dalam hati manusia, salah satunya adalah sibuk berpecah belah. Dahulu manusia berpecah belah justru setelah mereka mendapat ilmu, setelah mereka mengkaji Al-Kitab, disebabkan karena rasa dengki dan benci yang ada dalam hati mereka. Hal ini dapat kita lihat dari firman Alloh Ta’ala.
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. ( Qs. Al-Baqoroh 213 )
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” ( Qs. Ali Imron 19 )
Dua ayat tersebut memberitahukan kepeda kita bahwa sebab perpecahan umat justru setelah mereka mengetahui kebenaran dan mempelajari Al-Kitab. Disebabkan munculnya penyakit hasad dan benci kepada saudaranya.
Manusia diberi hawa nafsu oleh Alloh dimana hawa nafsu itu hanya mengejar dua hal, yaitu mencari nikmat dan menghindari sengsara. Ketenaran, salah satu kenikmatan yang banyak dicari oleh manusia. Jika ada yang lebih tenar dari dirinya maka jiwanya merasa sengsara, akhirnya ia akan berusaha bagaimana supaya kenikmatan tenar itu menjadi miliknya dan saudaranya tidak mendapakan ketenaran yang sama.
Untuk mewujudkan hal itu, ia menempa keras kemampuanya dibidang ilmu agama, menghafal Al-Qur’an, menghafal hadits nabi sholallohu alaihi wasalam, namun jauh didalam hatinya tersimpan dendam terhadap saudaranya, syahwat ingin menjatuhkan dan mengalahkan debat membara-bara dalah hatinya, sekaligus kebanggaan jika ia telah mampu menumbangkan lawan-lawanya.
PUNCAK ILMU :
Saudaraku yang dimuliakan Alloh, sadarilah bahwa puncak ilmu bukanlah ketenaran, bukan pula jumlah pengikut yang banyak, bukan pula seberapa engkau menghafal ayat maupun hadits, tetapi puncak ilmu adalah sejauh mana rasa takut kita kepada Alloh Ta’ala.
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” ( Qs. Fathir 28 )
Orang yang belajar agama hanya untuk menjadi tenar, hanya untuk mendebat saudaranya, atau hanya untuk mengunggulkan diri dan kelompoknya diancam oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasalam dalam haditsnya :
سنن ابن ماجه ٢٥٦: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ أَنْبَأَنَا وَهْبُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الْأَسَدِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ ,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ وَيُجَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ جَهَنَّمَ
Sunan Ibnu Majah 256: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il berkata: telah memberitakan kepada kami Wahb bin Isma’il Al Asadi berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id Al Maqburi dari Kakeknya dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam jahannam.”
Abdurrahman bin Abu Laila rohimahulloh berkata, “ didalam masjid ini aku pernah bertemu dengan seratus lima puluh sahabat rosululloh sholallohu alaihi wasalam, tidaklah salah seorang ditanya tentang suatu hadits atau fatwa, melainkan dia juga menanyakan kepada yang lainya hingga merasa yakin akan kebenaranya. Kemudian pada zaman sekarang muncul orang-orang yang mengaku sebagai ulama’ yang begitu mudah mengeluarkan jawaban mengenai berbagai masalah, yang seandainya masalah-masalah itu disodorkan kepada Umar bin Khotob, tentu ia akan mengumpulkan orang-orang yang pernah ikut perang badar dan meminta pendapat mereka “.
Itulah akhlak dan gambaran amal ulama’ salaf, dimana sifat tabayun terhadap permasalahan apapun melekat pada diri mereka, termasuk perkara-perkara yang diperselisihkan. Diskusi dan musyawarah merupakan akhlak Islami, tetapi berdebat untuk saling menjatuhkan adalah musibah, Imam Malik berkata, “ berdebat dalam urusan agama tidak ada manfaatnya “, kenapa beliau mengatakan begitu ?, karena berdebat hanya akan mengeraskan hati, menjadikan sombong dan merasa diri paling benar sehingga sulit menerima kebenaran. Semoga kita bisa saling menjaga ukhuwah Islamiyah sehingga kita dapat meraih kesempurnaan iman kepada Alloh Ta’ala. Amin .