Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Kehidupan tidak lepas dari segala problema, karena hidup itu adalah alur perjalanan masalah, siapa yang tidak ingin menghadapi masalah maka sama saja tidak ingin menjalani kehidupan. Alloh menjadikan masalah menimpa para hamba-Nya dan Alloh pulalah yang memberikan jalan keluarnya, dan jalan keluar dari masalah itu pangkalnya ada pada kesabaran.
Seandainya petani tidak sabar dalam menanam dan menunggu tanamanya berbuah niscaya ia tidak akan mengetam kenikmatan hasil tanamanya. Seandainya seorang pejuang tidak sabar dengan susahnya peperangan tentu ia tidak akan mendapatkan pertolongan. Seandainya seorang pelajar tidak sabar dalam menghadapi sulitnya pelajaran tentu ia tidak akan menjadi orang yang pintar.
Begitulah Alloh menjadikan sabar sebagai pangkal dari penyelesaian segala masalah, seluruh manusia yang sukses di dunia ia akan menjalani beratnya mendaki kesabaran, menghadapi berbagai kesulitan yang merintang, demikian pula bagi siapa yang ingin sukses akhiratnya maka ia pun harus sabar dalam menghadapi ujian uang pasti datang sebagai harga dari indahnya surga.
DEFINISI SABAR :
Sabar secara bahasa bermakna menahan atau memenjara. Adapun secara syar’i, sabar maknanya adalah menahan jiwa dari keputus asaan, menahan lesan dari mengeluh, dan menehan anggota badan dari memukul, merobek pakaian dan lain sebagainya.
Adapula yang mengatakan bahwa sabar adalah akhlak yang utama dari pada akhlak-akhlak jiwa, sabar itulah yang mencegah dari perilaku yang tidak baik dan tidak terpuji, itulah kekuatan yang paling kuat dari kekuatan jiwa yang mana dengan kesabaran itu segala urusan dan perkara akan menjadi baik.
Ada pula yang mengatakan bahwa sabar adalah menetapi ujian dengan adab-adab yang baik. Menampakan kekayaan ketika diuji dengan kemiskinan tanpa mengeluh.
Mengeluh sendiri ada dua macam, pertama mengeluh kepada Alloh hal ini tidak menafikan kesabaran, sebagaimana mengeluhnya nabi Ya’qub alaihissalam.
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللهِ
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku “ ( Qs. Yusuf 86 )
Kedua, mengeluh dengan lesan, yaitu mengeluhkan ujian yang didapat dengan menyebut-nyebut kondisi atau dengan brbagai ungkapan, hal inilah yang bertentangan dengan kesabaran dan membatalkanya.
PERINTAH UNTUK BERSABAR :
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“ Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah “ ( Qs. An-Nahl 127 )
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( Qs. An-Nahl 96 )
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“ Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. “ ( Qs. Az-Zumar 10 )
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata: “Kamu tidak mengerti keadaan saya, karena kamu tidak mengalami mushibah seperti yang aku alami”. Wanita itu tidak mengetahui jika yang menasehati itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu diberi tahu: “Sesungguhnya orang tadi adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Spontan wanita tersebut mendatangi rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun dia tidak menemukannya. Setelah bertemu dia berkata: “Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda”. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang mushibah)”. ( HR. Bukhori no.1203 )
MACAM-MACAM SABAR :
Sabar hakikatnya ada dua macam :
- Sabar secara badaniyah, yaitu sabarnya fisik dari kesulitan yang bersifat badaniyah, seperti melaksanakan amal ketaatan yang berat dari ibadah-ibadah dan lain sebagainya.
- Sabar yang bersifat jiwa dari keinginan syahwat dan hawa nafsu, sabar jenis ini jika kesabaran tersebut dalam rangka menahan syahwat perut dan kemaluan maka disebut sebagai iffah ( menjaga kemuliaan ), sabar dalam peperangan disebut syaja’ah ( patriotisme ), kesabaran dalam menahan amarah disebut hilm ( lemah lembut ), kesabaran dalam sikap disebut kelapangan jiwa, kesabaran dalam menyembunyikan urusan penting disebut kitman ( kuat menyembunyikan rahasia ), sabar dalam kelebihan hidup disebut zuhud ( sederhana ), sabar dalam menerima bagian disebut qona’ah. Adapun musibah orang yang mampu menjalaninya adalah definisi singkat dari kesabaran.
Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa segala akhlak yang mulia berpangkal pada kesabaran seluruhnya.
Pada hakikatnya manusia tidak akan pernah lepas dari kesabaran karena kondisi manusia tidak akan lepas dari dua kemungkinan :
- Kondisi dimana sesuai dengan hawa nafsu dan keinginan, seperti mendapatkan kesehatan, harta, kedudukan dan kenikmatan dunia yang lainya. Seorang hamba tidak boleh terbuai dengan segala kenikmatan tersebut, ia harus membangun kesabaran untuk tidak melalaikan hak Alloh diantaranya, berinfak, menunaikan hak-hak amanah dan lain sebagainya.
Betapa banyak orang yang tidak sabar diuji dengan kemudahan dan kekayaan, sebagaimana ungkapan Abdurrahman bin Auf, “ Kami telah diuji dengan kesusahan dan kami telah menjalaninya dengan kesabaran, dan kami diuji dengan kemuduhan dan kami belum bisa bersabar “. Dalam hal ini Alloh mengingatkan :
لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“ janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” ( Qs. Al-Munafiqun 9 )
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
“ Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan “ ( Qs. Al-Anfal 28 )
- Kondisi yang menyelisihi keinginan dan hawa nafsu
Dalam hal ini ada tiga keadaan :
- Keta’atan, seorang hamba harus membangun kesabaran dalam hal ini karena karakter jiwa adalah lari dari ibadah dan ketaatan. Dikarenakan amal ketaatan itu mengandung konskwensi kelelahan, mengurangi harta dan mengganggu kesenangan. Maka dalam hal ini kesabaran dibutuhkan dalam tiga keadaan :
- Sebelum pelaksanaan, sabar dalam kondisi ini adalah sabar dalam mengikhlaskan niat, menjauhi segala kepentingan duniawi dan hanya memfokuskan niat untuk Alloh Azza wajalla.
- Sabar ketika pelaksanaan ibadah, yaitu tidak lalai dalam pelakasaan ibadah dengan menyibukan diri kepada selain Alloh, sabar dalam menjaga adab-adab kepada Alloh dan sabar dari kemalasan dan futur.
- Sabar setelah beramal, sabar dalam hal ini adalah tidak menyebar luaskan amal yang dilakukan, dan sabar dari segala hal yang dapat membatalkan pahala amal ibadah yang telah dikerjakan, seperti menyebut-nyebut sedekah yang telah dikeluarkan dan lain sebagainya.
- Menjauhi maksiyat. Semakin mudah kemaksiatan yang dikerjakan maka akan semakin sulit dan berat kesabaran yang ditempuh, misal saja kemaksiayatan yang dilakukan oleh lesan dengan menggibah dan lain sebagainya, membutuhkan kesabaran yang lebih berat dari pada kemaksiyatan karena memakai pakaian sutera bagi laki-laki.
- Menjalani ujian atau musibah. Dalam menjalani ujian atau musibah dibutuhkan kesabaran yang besar pula, misal orang yang kehilangan keluarga, kehilangan harta, kehilangan pendengaran, kehilangan penglihatan, termasuk dalam hal ini adalah sabar dalam menghadapi gangguan orang lain. Dalam hal ini Rosululloh memberikan motivasi :
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang muslim bahkan duri yang melukainya sekalipun melainkan Allah akan menghapus (kesalahannya).” ( HR. Bukhori no. 5209 )
ADAB-ADAB BERSABAR :
Ada beberapa adab yang mesti diperhatikan bagi siapa yang ingin meraih kesabaran :
- Berusaha untuk mengamalkan kesabaran tersebut pada awal musibah yang menimpanya, hal ini sebagai mana yang disebutkan dalam hadits diatas , “Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang mushibah)”.
- Istirja’ ( mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roju’un )
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” ( Qs. Al-Baqoroh 156 )
- Menenangkan diri dari memukul, merobek dan lain sebagainya, adapun menangis sebagian ulama’ membolehkan selama tidak berlebihan.
- Menahan untuk tidak menampakan beratnya musibah yang ditanggung kepada orang lain. Cukuplah dalam hal ini Ummu Sulaim istri Abu Tholhah sebagai teladan.
Shahih Muslim 3996: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Ibnu Sirin dari Anas bin Malik ia berkata: Suatu ketika bayi milik Abu Thalhah jatuh sakit. Bayi tersebut kemudian meninggal tatkala Abu Thalhah sedang keluar rumah. Saat Abu Thalhah kembali kerumah dia bertanya kepada Ummu Sulaim: “Bagaimana keadaan anakku? Dia menjawab: “Aku lihat dia sekarang lebih tenang dari sebelumnya.” Kemudian, seperti biasa, Ummu Sulaim menghidangkan makan malam untuk suaminya. Selesai makan malam, keduanya tidur dan melakukan hubungan suami istri. Tak lama setelah itu, Ummu Sulaim mulai menceritakan keadaan anaknya yang sebenarnya, bahwa dia telah dikuburkan. Keesokan harinya, Abu Thalhah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menceritakan hal itu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah kalian sudah menjadi pengantin semalaman?” Abu Thalhah menjawab: “Ya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan: “Ya Allah berkatilah mereka berdua.” Ketika Ummu Sulaim melahirkan seorang anak, Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas): “Bawalah anak ini ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Maka anak itu aku bawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa buah kurma. Lalu beliau mengambil anak itu sambil bertanya: “Adakah sesuatu yang di bawa bersamanya?” Para sahabat menjawab: “Ya ini ada beberapa buah kurma.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kurma itu dan langsung mengunyahnya. Setelah itu, beliau ambil kurma yang telah dikunyahnya itu dan memasukannya ke dalam mulut bayi tersebut, beliau menggerak-gerakan mulut bayi tersebut dan memberinya nama Abdullah. ( HR. Muslim no. 3996 ).
Semoga Alloh senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu bersabar dalam segala kondisi. Amin
MAROJI’ :
- Mausu’ah Al-Akhlak waz-zuhdi war-roqoiq Yasir Abdurrahman
- Muhtashor minhajul Qosidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
- Tazkiyatunnufus DR. Raghib As-Sirjani
- Manazilus-sairin Abu Isma’il Abdulloh bin Muhammad bin Ali Al-Anshori Al-Harowi
- Mauidhotul-mukminin min ihya ulumiddin Muhammad Jamaludin bin Muhammad Sa’id bin Qosim Al-Halaq Al-Qosimi