Tingkatan Berpuasa Website Administrator November 4, 2024

Tingkatan Berpuasa

KULTUM 14

TINGKATAN BERPUASA

Asslamu’alaikum wa rahmatullohi wa barokatuh

بسم الله الرحمن الرحيم

نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى عَمِيمِ آلاَئِكَ، وَنَشْكُرُكَ عَلَى جَزِيل نَعْمَائِكَ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِكَ وَأَنْبِيَائِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي أَتَمَّ اللَّهُ بِهِ النِّعْمَةَ، وَكَشَفَ بِهِ الْغُمَّةَ، وَأَقَامَ بِهِ الْحُجَّةَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَسَارَ عَلَى سُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam, sholawat dan salam keatas nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam, para keluarga, sahabat, tabi’ien, tabi’uttabi’ien dan seluruh umat beliau yang senantiasa menghidupkan sunnah beliau sampai hari kiamat nanti.

Bapak ibu yang dimuliakan Alloh, pada kultum kali ini kami akan menyampaikan tentang tingkatan orang yang berpuasa, materi ini diharapkan dapat dijadikan muhasabah bagi kita semuanya, kira-kira kita sudah sampai pada tingkatan puasa yang manakah ?

Namun sebelum kita membahas tema tersebut, sebelumnya marilah kita ulas sedikit tentang fadhilah atau keutamaan berpuasa, agar kita semakin semangat dalam melaksanakan ibadah puasa. Tentang fadhilah tersebut dapat dilihat dari beberapa riwayat hadits, diantaranya hadits yang berbunyi :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)

Dalam hadits tersebut dijelaskan betapa istimewanya ibadah puasa sehingga Alloh sendiri yang akan menghitungnya, berbeda dengan amal ibadah yang lain, dimana penghitunganya diperintahkan kepada malaikat.

Dalam riwayat yang lain :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Amalan puasa dan amalan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata, “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”. Dan amalan Al Qur’an pula berkata, “Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda, “Maka syafa’at keduanya diperkenankan”. ( HR. Ahmad )

Bapak ibu rahimakumulloh, amal puasa dan tilawah Qur’an, kelak akan menjadi syafi’ atau penolong bagi pelakunya, jika banyak amal keburukan yang kita lakukan maka puasa dan qiro’ah akan menolong dari keterancaman masuk neraka.

Bapak ibu rahimakumulloh, itulah beberapa riwayat yang menjelaskan tentang fadhilah atau keutamaan ibadah shiyam, kemudian para ulama’ menjelaskan bahwaorang yang berpuasa memiliki tiga tingkatan, pertama puasa umum, kedua puasa khusus dan ketiga puasa khususil khusus.

Pertama puasa umum : yaitu menjaga perut dan kemaluan dari menahan syahwat.

Ini merupakan tingkatan mayoritas umat Islam, dimana puasa hanyalah sebagai rutinitas ramadhan, atau bahkan tidak sedikit yang hanya sebagai aktifitas merubah ritme makan, yang tadinya makan sehari tiga kali, kemudian dirubah sehari dua kali. Jadi pelaksanaan puasanya hanya murni menahan lapar dan dahaga semata, tanpa adanya penghayatan dan perenungan terhadap hikmah diperintahkanya puasa.

Kedua Puasa khusus : yaitu menjaga pandangan lesan, tangan, kaki, pendengaran, dan seluruh anggota badan dari berbuat dosa. Diantara adab-adab yang harus diperhatikan dalam tingkatan ini adalah, menundukan pandangan, menjaga lesan dari perkataan yang menyakiti dan haram atau makruh, dan menjaga anggota badan yang lain dari melakukan hal-hal yang haram, makruh atau yang tidak bermanfaat. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“ barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan dusta dan amal yang buruk, maka Alloh tidak punya hajat terhadap apa yang dia lakukan yaitu meninggalkan makanan dan minumanya “ ( HR. Bukhori )

Bapak ibu rahimakumulloh, puasa tingkatan kedua ini merupakan puasa yang lebih baik dari pada tingkatan yang pertama, jika dikalkulasi, jumlah pelakunya akan lebih sedikit daripada jenis puasa yang pertama, puasa pada tingkat ini tidak hanya aktifitas meninggalkan makanan dan minuman atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban, lebih dari itu, pelaku puasa kedua ini sudah mulai menyadari bahwa puasa bukan hanya sekedar merubah ritme makan atau hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, akan tetapi ia mulai mengejar fadhilah atau keutamaan dari perintah puasa tersebut.

Adapun puasa yang ketiga yang merupakan tingkatan yang tertinggi adalah puasa khususil khusus : yaitu puasanya hati dari keinginan yang rendah, pikiran yang jauh dari Alloh dan menahanya dari selain Alloh secara keseluruhan. Diantara adab yang diperhatikan adalah, tidak memenuhi perutnya dengan makanan dimalam hari sehingga ia menjadi malas untuk beribadah.
sebagaimana namanya yang khas, pelakunya pun juga lebih khas, dalam artian paling sedikit, dimana puasa jenis ini sudah menyentuh kepada puasanya hati dan jiwa dari keinginan dunia semata.

Bapak ibu rahimakumulloh, tentunya kita tidak mungkin serta merta akan sampai pada tingkatan tertinggi, akan tetapi kita harus melatihnya dari bawah, membangun dan membangkitkan keinginan jiwa untuk menjadi lebih baik.

Bapak ibu rahimakumulloh, barangkali hanya itu yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat dan kurang lebihnya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, billahittaufik wal hidayah wa ridho wa inayah,

wasslamau ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

( maroji’ muktashor minhajul Qosidin dan ihya ulumuddin bab asror shoum )