Jalan Keselamatan Website Administrator November 3, 2024

Jalan Keselamatan

KULTUM 9

JALAN KESELAMATAN

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam, sholawat dan salam keatas nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam, para keluarga, sahabat, tabi’ien, tabi’uttabi’ien dan seluruh umat beliau yang senantiasa menghidupkan sunnah beliau sampai hari kiamat nanti.

Bapak Ibu rahimakumulloh, Suatu hari ada seorang sahabat (‘Uqbah bin ‘Aamir) datang kepada rasulullah saw dan bertanya :

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ  ؟

“Wahai rasulullah apa yang bisa membuat diriku tenang, tentram, enjoy, serta selamat baik dunia maupun akhirat ?”

قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Rasulullah saw menjawab : “(Amsik ‘alaika lisanak) Jagalah lisanmu, (Walyasa’ka baituk) luaskanlah rumahmu, (Wabki ‘ala khathi’atik) dan tangisilah perbuatan salahmu.” (Diriwayatkan Turmudzy)

Dari hadits diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jalan, manhaj, konsep, cara agar seseorang itu selamat sehingga merasa tenang, tentram, dan tuma’ninah dalam menghadapi segala permasalahan ada tiga perkara :

  1. Menjaga lisan :

Lisan itu bagaikan kuda, keduanya bisa mencelakakan dan bisa menyelamatkan pemiliknya. Hingga kemudian apabila seorang faaris (penunggang kuda) sembarang naik tanpa mengetahui kaifiyah (cara) mengendalikan tunggangannya maka ia akan mudah terlempar jatuh dari kudanya tadi. Begitu pula lisan, jika seseorang sembarangan dalam menggunakan lisannya tanpa ada kendali niscaya ia akan mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan sehingga bisa menjerumuskannya kedalam jahannam.

Makanya, amatlah benar Rasulullah saw ketika berjanji dengan bersabda :

مَنْ يَضْمَنُ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mampu menjaga apa yang ada diantara kedua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluannya) dengan baik, aku berani menjamin bahwa dia pasti akan masuk surga,” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad)

Bahkan rasulullah menjelaskan bahwa keistiqamahan iman seseorang tergantung pada lisannya, sabda beliau :

لا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

Keimanan seseorang hamba tidak dianggap istiqamah sebelum hatinya istiqamah. Dan hati itu tidak dianggapa istiqamah sebelum lidahnya istiqamah.” (Diriwayatkan Ahmad dari Anas bin Malik)

  • Melapangkan tempat tinggal :

Maksudnya adalah melazimi (mendiami) rumah/tempat tinggalnya dengan menyibukkan diri dalam berbagai ketaatan kepada Allah yakni dengan memperbaiki rumah tangga yang ada, seperti menjaga diri dan keluarga agar senantiasa taat kepada apa yang telah Allah swt syariatkan. Syaikh Shalih al Munajjid menyebutkan, Rumah Adalah Nikmat.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah swt menyebutkan kesempurnaan nikmatNya atas hambaNya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat”.

Adapun rasa syukur atas nikmat ini bisa kita wujudkan dengan memperbaiki rumah tangga, diantaranya dengan mengamalkan ayat Allah swt:

ياأيها الذِيْنَ ءَامَنُــوا قــُــــــــــوْا أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ نـــَارًا

 “Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka” (Qs. at-Tahrim : 6).

Ali r.a. berkata : didik dan ajarilah mereka. Ibnu Abbas r.a. mengatakan :

اعْمَلُــــوا بِطَاعةِ اللهِ، وَاتَّقُوا مَعَاصِيَ اللهِ، ومُرُّوا أهلِيـْــكُمْ باِلذِّكْرِ، يُنْجِيْكُمُ اللهُ مِنَ النَّارِ.

Beramallah dengan memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan jauhi maksiat, serta perintahkan keluargamu untuk selalu mengingat Allah, niscaya Allah menyelamatkanmu dari api neraka”.

  • Menangisi kesalahan yang telah diperbuat :

Karena setiap bani adam pasti melakukan kesalahan, maka akan amat sangat pantas jika diri mereka menangisinya. Kalaulah misalkan seseorang tidak bisa menangisi kesalahannya, minimal bersegera beristigfar dan kembali mengingat Allah serta menyesali dan menghitung-hitung kesalahan yang telah diperbuat. Umar bin Khathab r.a berkata :

حَاسِبُوْا أَنفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِّنوُا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوَزَّنُوا، فَإِنَّهُ أَخَفَّ عَلَيْكُمْ فِي اْلحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسَبُوْا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena sesungguhnya hisab yang kalian lakukan hari ini akan meringankan hisab kalian pada hari esok (akhirat)

Bahkan Rasulullah saw bersabda :

 ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ))

Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”( HR. Muslim 4/2076). Dan sabdanya :

((وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً))

Demi Allah! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”(HR. Bukhari).

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata dalam  “al-Fawaid” :

التَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ كَشُرْبِ الدَّوَاءِ لِلْعَلِيْلِ وَرُبَّ عِلَّةٍ كَانَتْ سَبَبُ الصِّحَةِ

Bertaubat dari dosa bagaikan meminum obat untuk menangkal penyakit dan berapa banyak obat yang karenanya orang menjadi sehat”. Ibunda Aisyah r.a mengatakan :

طُوْبَي لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا

Beruntunglah orang-orang yang mendapati dalam catatan amal perbuatannya memuat banyak istigfar[1]. Wallahu A’lam bish Shawab,

Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang dan lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besaranya, billahittaufiq wal hidayah

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullohi wa barokatuh


[1] . Tazkiyatu an-Nafs, hal 51.