CIRI ORANG TAWAKAL Website Administrator October 3, 2024

CIRI ORANG TAWAKAL

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

Tawakal merupakan buah dari keyakinan, sedangkan keyakinan adalah kuatnya keimanan seseorang dan keteguhanya sampai-sampai seorang seolah dapat melihat apa yang Alloh khabarkan itu dengan penglihatan matanya saking kuatnya keyakinanya. Maka keyakinan adalah sebuah keteguhan yang tidak sedikitpun tercampur dengan keraguan didalamnya, ia mampu melihat yang ghoib seolah-olah hadir dihadapanya, dan posisi tersebut merupakan derajat iman yang paling tinggi.

PENGERTIAN TAWAKAL

Tawakal terbentuk dari kata al-wakalah, jika dikatakan wakkala fulan amrahu ila fulan, maka maknanya adalah, fulan yang pertama menyerahkan urusanya kepada fulan yang kedua serta bersandar kepadanya dalam urusan itu.

Imam Al-Ghozali : tawakal merupakan sebuah ungkapan untuk penyandaran hati kepada wakilnya saja.

Syaikh Al-Utsaimin : tawakal kepada Alloh maknanya adalah penyandaran seseorang terhadap Tuhanya secara lahir maupun batin dalam rangka mendapat manfaat atau menolak madhorot.

Tawakal menurut Islam adalah amalan dan harapan, dengan ketenangan hati dan ketenteraman jiwa serta keyakinan yang kuat, bahwa apa yang dikehendaki Alloh pasti terwujud dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terwujud, dan bahwasanya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang yang beramal kebaikan.

DALIL TENTANG TAWAKAL

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“ Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” ( Qs. Al-Maidah 23 )

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“ Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” ( Qs. At-Talaq 3 )

صحيح البخاري ٥٢٧٠: حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا حُصَيْنٌ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَذَكَرْتُهُ لِسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَجَعَلَ النَّبِيُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّونَ مَعَهُمْ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ حَتَّى رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ قُلْتُ مَا هَذَا أُمَّتِي هَذِهِ قِيلَ بَلْ هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ قِيلَ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَإِذَا سَوَادٌ يَمْلَأُ الْأُفُقَ ثُمَّ قِيلَ لِي انْظُرْ هَا هُنَا وَهَا هُنَا فِي آفَاقِ السَّمَاءِ فَإِذَا سَوَادٌ قَدْ مَلَأَ الْأُفُقَ قِيلَ هَذِهِ أُمَّتُكَ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ هَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ثُمَّ دَخَلَ وَلَمْ يُبَيِّنْ لَهُمْ فَأَفَاضَ الْقَوْمُ وَقَالُوا نَحْنُ الَّذِينَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاتَّبَعْنَا رَسُولَهُ فَنَحْنُ هُمْ أَوْ أَوْلَادُنَا الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ فَإِنَّا وُلِدْنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَالَ عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ أَمِنْهُمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ أَمِنْهُمْ أَنَا قَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ

Shahih Bukhari 5270: Telah menceritakan kepada kami Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Fudlail telah menceritakan kepada kami Hushain dari ‘Amir dari Imran bin Hushain radliallahu ‘anhuma dia berkata: “Tidak ada ruqyah (jampi-jampi dari Qur’an dan Sunnah) kecuali dari penyakit ‘Ain atau demam, lalu hal itu kusampaikan kepada Sa’id bin Jubair, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beberapa ummat pernah ditampakkan kepadaku, maka nampaklah seorang nabi dan dua orang nabi lain lewat bersama dengan beberapa orang saja, dan seorang nabi lagi yang tidak bersama seorang pun, hingga tampak olehku segerombolan manusia yang sangat banyak, aku pun bertanya: “Apakah segerombolan manusia itu adalah ummatku?” di beritahukan: “Ini adalah Musa dan kaumnya.” Lalu diberitahukan pula kepadaku: “Lihatlah ke ufuk.” Ternyata di sana terdapat segerombolan manusia yang memenuhi ufuk, kemduian di beritahukan kepadaku: “Lihatlah di sebelah sini dan di sebelah sana, yaitu di ufuk langit.” Ternyata di sana telah di padati dengan segerombolan manusia yang sangat banyak, ” di beritahukan kepadaku: “Ini adalah ummatmu, dan di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu yang masuk surga tanpa hisab.” Setelah itu beliau masuk ke rumah dan belum sempat memberi penjelasan kepada mereka (para sahabat), maka orang-orang menjadi ribut, mereka berkata: “Kita adalah orang-orang yang telah beriman kepada Allah dan mengikuti jejak Rasul-Nya, mungkinkah kelompok tersebut adalah kita ataukah anak-anak kita yang dilahirkan dalam keadaan Islam sementara kita dilahirkan di zaman Jahiliyah.” Maka hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau keluar dan bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah minta untuk di ruqyah, tidak pernah bertathayur (menganggap sial pada binatang) dan tidak pula melakukan terapi dengan kay (terapi dengan menempelkan besi panas pada daerah yang sakit), sedangkan kepada Rabb mereka bertawakkal.” Lalu Ukasah bin Mihshan berkata: “Apakah aku termasuk di antara mereka ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Ya.” Selanjutnya sahabat yang lain berdiri dan berkata: “Apakah aku termasuk dari mereka?” beliau bersabda: “Ukasah telah mendahuluimu.”

TINGKATAN TAWAKAL

  1. Benar-benar yakin terhadap penyandaranya kepada Alloh, seperti yakin seorang yang mewakilkan urusanya kepada orang lain. Ini adalah tingkatan tawakal yang paling rendah.
  2. Selalu bersama dengan Alloh seperti anak kecil yang selalu membersamai ibunya, jika ia melihat ibunya akan pergi maka ia segera memegang pakain ibunya supaya ia tidak tertinggal, jika ia menghadapi masalah maka yang ia cari dan ia panggil pertama kali adalah ibu. Seorang yang bertawakal kepada Alloh, keadaanya seperti anak kecil tersebut. Jadi ia benar-benar pasrah kepada Alloh. Perbedaan tingkatan ini dengan yang pertama adalah, pada tingkatan yang pertama, tawakal yang muncul karena terpaksa atau karena mencari, sehingga masih memungkinkan masuknya tawakal kepada selain-Nya. Adapun tingkatan yang kedua ini adalah tingkatan tawakal yang murni tanpa menengok yang lain-Nya.
  3. Tingkatan yang ketiga adalah tingkatan yang paling tinggi. Ia laksana mayat dihadapan Alloh Ta’ala. Ibarat mayat ia hanya pasrah terhadap siapa saja yang akan mengurusnya, seperti anak yang akan dispisahkan dari ibunya, ia akan berusaha keras memegang apapun yang dapat dia pegang dari ibunya.

TINDAKAN KETAWAKALAN

Orang yang tawakal akan dapat dilihat dari amal usaha yang ia lakukan, berikut ini gambaran ketawakalan yang tercermin dari tidakan.

  • Mengusahakan datangnya manfaat

Datangnya manfaat selalu diiringi dengan sebab, adapun sebab ada beberapa macam diantaranya :

  1. Sebab yang pasti, yaitu sebab yang telah ditetapkan Alloh dalam takdir-Nya. Misal, makanan merupakan sebab yang telah Alloh ciptakan untuk menghilangkan lapar, minuman untuk menghilangkan dahaga dan lain sebagainya.
  2. Sebab yang tidak termasuk yang meyakinkan tetapi seringnya seperti itu. Misalnya orang yang akan melakukan perjalanan melalui padang ilalang maka ia harus menyiapkan sabit atau golok dan sejenisnya karena alat tersebut memang sangat dibutuhkan.
  3. Sebab yang diperkirakan akan menjadi sebab terjadinya sesuatu, misal orang yang akan membuka suatu usaha maka ia harus berhitung peluang untung dan ruginya.
  • Mengusahakan untuk mengantisipasi bahaya

Mengusahakan untuk mengantisipasi bahaya juga sering disebut sebagai tindakan wiqoyah ( prefentif ) untuk mengantisipasi datangnya bahaya yang secara perkiraan akan menimpa, misalnya , melakukan karantina terhadap orang yang terkena penyakit menular yang membahayakan jiwa.

  • Berusaha menyingkirkan bahaya yang sudah tiba

Usaha menyingkirkan bahaya yang telah datang dengan berusaha untuk menghilangkanya, misalnya berobat dengan obat yang sesuai terhadap penyakit yang diderita dan lain sebagainya.

KESIMPULAN

Orang yang tawakal bukanlah orang yang hanya pasrah begitu saja terhadap nasib yang akan, dan telah menimpanya. Akan tetapi orang yang tawakal adalah orang yang selalu mempunyai perencanaan dan perhitungan dalam setiap tindakan yang akan dan sedang dilakukan, dengan perhitungan yang baik maka akan dapat memunculkan sebab-sebab yang baik pula, sebaliknya orang yang berbuat tanpa perhitungan hakikatnya adalah orang yang tergesa-gesa dalam perbuatanya dan tergesa-gesa biasanya menimbulkan cela. Wallohu a’lam.

MAROJI’ :

  1. Minhajul qosidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  2. Ihya ulumuddin Imam Al-Ghazali
  3. Syarh riyadhussholihin Syaikh Al-Utsaimin
  4. Minhajul muslim syaikh Abu Bakar Al-Jaziri
  5. Olah raga hati DR. Ahmad Farid