AQIQOH UNTUK DIRI SENDIRI Website Administrator October 10, 2024

AQIQOH UNTUK DIRI SENDIRI

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

Persoalan aqiqoh masih menyisakan polemik ditengah masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Salah satu polemik terkait dengan permasalahan aqiqoh adalah, bolehkah seseorang yang sampai usia dewasa belum diaqiqohi oleh kedua orang tuanya, diperbolehkan untuk meng aqiqohi diri sendiri.

Dalam hal ini memang diperselisihkan oleh para ulama’ :

  • MADZHAB HANAFI :

Menurut madzhab Hanafi Aqiqoh hukumnya adalah mubah, bukan wajib, yang ingin menyelenggarakan silakan yang tidak juga tidak mengapa. Pendapat ini disandarkan kepada hadits Nabi sholallohu alaihi wasalam :

مسند أحمد ٦٥٣٠: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ الْفَرَّاءُ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْعَقِيقَةِ فَقَالَ لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ وَمَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَفْعَلْ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

Musnad Ahmad 6530: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Dawud bin Qois Al Farro` dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya tentang Aqiqoh, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidak suka dengan kedurhakaan, barangsiapa mendapatkan kelahiran anak kecil dan ingin menyembelih atas anak tersebut hendaknya ia laksanakan, dua ekor kambing yang pantas untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.”

  • MADZHAB MALIKI :

Apabila orang tua tidak mampu mengaqiqohi anaknya setelah tenggelam matahari pada hari ketujuh maka gugurlah aqiqoh, sebagian yang lain mengatakan tidak gugur di hari ketujuh, tetapi ia boleh melaksanakan pada pekan pertama atau pekan kedua dan pekan ketiga. Jika sampai pekan ketiga tidak melaksanakan maka ia tidak boleh melaksanaknya sesudah itu.

  • MADZHAB SYAFI’IE :

Menurut Ar-Rafi’ie , apabila aqiqoh diakhirkan hingga anak mencapai usia dewasa maka gugurlah hukumnya hak selain dari pada anak, dan ia menjadi pilihan untuk mengaqiqohi dirinya sendiri, beliau mengatakan, bahwa Al-Qofal dan Asy-Syasyi menganjurkan untuk menaqiqohi diri sendiri, berdasar kepada hadits yang diriwayatkan bahwa Nabi sholallohu alaihi wasalam mengaqiqohi dirinya sendiri setelah beliau diutus sebagai Nabi. Sebagian yang lain menukil dalam Al-Buyuti bahwa beliau ( Rosululloh ) tidak melakukanya dan menganggap riwayat tersebut ghorib . Ini merupakan pendapat Ar-Raf’ie. Penulis Al-Majmu’ mengatakan, menurutku, sebagaimana disebutkan dalam Al-Buyuti, beliau mengatakan, tidak ada aqiqoh untuk orang yang sudah besar ( dewasa ), lafadz ini dinukil dari Al-Buyuti. Ini tidak bertentangan dengan pendapat yang sebelumnya ( boleh mengaqiqohi diri sendiri ) dikarenakan, tidak boleh mengaqiqohi orang yang sudah dewasa, tidak meniadakan aqiqoh untuk diri sendiri. Demikian pula pendapat yang dipilih oleh Al-Khotib Asy-Syarbini.

  • MADZHAB HAMBALI :

Disunnahkan melaksanakan aqiqoh pada hari ketujuh, kalau tidak mampu maka hari ke empatbelas, kalau tidak mampu maka hari ke dua puluh satu, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat A’isyah. Demikian juga pendapat Ishaq, demikian juga diriwayatkan dari Malik, terkait seseorang yang ingin mengaqiqohi anaknya, beliau mengatakan, disunnahkan menyembelihnya pada hari ketujuh, dasarnya adalah hadit Nabi :

سنن أبي داوود ٢٤٥٥: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Sunan Abu Daud 2455: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi, dari Sa’id dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.”

Adapun hari ke empat belas, atau dua puluh satu, hujjahnya adalah perkataan A’isyah rodhiyallohu anha, beliau tidak mungkin berpendapat kecuali itu dari pasti disandarkan kepada Rosul. Dan jika ingin menyembelih kurang dari hari ketujuh atau setelahnya maka tidak mengapa, karena maksudnya tersampaikan. Jika sudah lebih dari hari ke duapuluh satu maka dianjurkan pada hari kelipatan tujuh, ini sebagaimana diqiyaskan pada penjelasan A’isyah diatas. Bahkan boleh dilaksanakn kapan saja, karena hal ini merupakan qodho’ dari ketidakmampuan.

Jika belum diaqiqohi hingga si anak dewasa maka tidak ada aqiqoh baginya. Imam Ahmad pernah ditanya tentang permasalahan tersebut, beliau berkata, “ itu kewajiban Bapak !” yakni tidak ada aqiqoh untuk diri sendiri.

KESIMPULAN :

Para ulama’ berbeda pendapat sebagaimana penjelasan diatas, menurut madzhab Syafi’ie boleh seseorang mengaqiqohi dirinya sendiri dengan alasan diantaranya adalah, bahwa dirinya masih tergadaikan, pendapat ini juga merupakan pendapat Atho’ dan Al-Hasan. Sedangkan menurut Madzhab Maliki dan Hambali, Aqiqoh tidak disyari’atkan kecuali orang tua, sehingga anak tidak perlu mengaqiqohi dirinya sendiri apabila ia sampai dewasa belum diaqiqohi. 

MAROJI’ :

  1. Bada’iush-shona’i fie tartibisy-syaroi’ Alaudin Abu Bakar bin Mas’ud bin Hasan Al-Kasani Al-Hanafi 5/69
  2. Asy-syarhu Ash-shoghir ala aqrobil-masalik ila madzhabi Al-Imam Malik Al-Alamah Abil Barkat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ad-Dardir 2/150
  3. Al-Majmu’ Imam Nawawi 8/411-412
  4. Mughnil-Muhtaj Al-Khotib Asy-syarbini 7/144
  5. Al-Mughni Ibnu Qudamah 13/395-396
  6. Taudhihul-ahkam min bulughil-marom Abdulloh bin Abdurrahman Al-Basam 4/386