Oleh : Abdullah Al-Hanif
Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam. Shalawat dan salam terhatur kepada nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam, para keluarga beliau, para sahabat dan tabi’in serta seluruh umatnya sampai hari kiamat nanti.
Udhiyah adalah salah satu ibadah dan syari’at nabi Ibrahim yang disyari’atkan kepada umat Islam, yang mana hal itu merupakan bukti kemuliaan umat Islam atas umat-umat sebelumnya, udhiyah tidak disyari’atkan kepada yahudi, tidak juga kepada nasrani akan tetapi Allah berikan kepada umat Islam, hal ini merupakan kemuliaan umat Islam.
Lantas apa pengertian udhiyah dan bagaimana hukumnya dalam Islam ?, berikut ini kami sajikan sesuai apa yang dijelaskan oleh Syaikh DR. Wahbah Az-Zuhaily dalam kitab beliau, semoga menjadi tambahan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Amin
PENGERTIAN UDHIYAH SECARA BAHASA :
الْأُضْحِيَةُ لُغَةً: اِسْمٌ لَمَّا يُضْحَى بِهِ، أَوْ لَمَّا يَذْبَحُ أَيَّامَ عِيدِ الْأَضْحَى، فَالْأَضْحُيَةُ مَا يَذْبَحُ فِي يَوْمِ الْأَضْحَى.
Udhiyah secara bahasa : nama untuk apa-apa yang disembelih denganya, atau untuk binatang yang disembelih pada hari-hari raya idul adha, maka udhiyah adalah binatang yang disembelih pada hari raya idul adha.
PENGERTIAN SECARA ISTILAH FIQIH :
وَفِقْهًا: هِي ذَبْحُ حَيَوَانٍ مَخْصُوصٍ بِنِيَّةِ الْقُرْبَةِ فِي وَقْتٍ مَخْصُوصٍ( الدُّرَّ الْمُخْتَارَ: 219 / 5).أَوْ هِي مَا يَذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى فِي أَيَّامِ النَّحْرِ( شَرْحَ الرِّسَالَةِ: 366 / 1، مغنِي الْمُحْتَاجَ: 282 / 4).
Secara fiqih : udhiyah adalah menyembelih binatang yang dikhususkan dengan niat mendekatkan diri kepada Alloh pada waktu yang dikhususkan, atau apa-apa yang disembelih dari binatang ternak dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh pada hari-hari penyembelihan.
Dari pengertian di atas dapat difahami bahwa udhiyah atau kurban adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki tatacara khusus dan aturan yang khusus, dan begitulah ciri dari ibadah yaitu adanya ritual dan tatacara khusus mencakup syarat, rukun dan hal-hal yang disunnahkan serta terdapat peluang batal atau tidak sah.
TAHUN DISYARI’ATKAN :
وَقَدْ شَرَعَتْ فِي السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ كَالْزَّكَاةِ وَصَلَاَةِ الْعِيدَيْنِ، وَثَبَتَتْ مَشْرُوعِيَّتُهَا بِالْكِتَابِ وَالسَّنَةِ وَالْإِجْمَاعِ( الْمُغَنِّي: 617 / 8، مغنِي الْمُحْتَاجَ: الْمَكَانُ السَّابِقُ، الْمُهَذَّبَ: 237 / 1).
Udhiyah disyari’atkan pada tahun kedua hijriyah sebagaimana zakat dan sholat ied, dan ditetapkan pensyariatnya berdasarkan Al-Qur’an, as-sunnah dan al-ijma’.
Jadi udhiyah disyari’atkan pada tahun yang sama dengan syari’at zakat yaitu tahun kedua hijriyah.
HUKUM UDHIYAH :
اِخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ الْأُضْحِيَةِ، هَلْ هِي وَاجِبَةٌ أَوْ هِي سَنَةٌ ؟
Para ahli fiqih berbeda pendapat menegenai hukum udhiyah, apakah ia wajib ataukah sunnah ?
فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةٍ وَأَصْحَابُهُ: إِنَّهَا وَاجِبَةُ مَرَّةً فِي كُلُّ عَامٍ عَلَى الْمُقِيمِينَ مِنْ أهْلِ الْأَمْصَارِ، وَذَكَرَ الطَّحَاوِيُّ وَغَيْرُهُ: أَنَّ عَلَى قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةٍ: وَاجِبَةٌ، وَعَلَى قَوْلِ الصَّاحِبَيْنِ( أَبِي يوسف وَمُحَمَّدٌ): سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ( تَكْمِلَةُ فَتْحِ الْقَدِيرِ: 67 / 8، اللُّبَابُ شَرْحُ الْكِتَابِ: 232 / 3، تَبْيِينُ الْحَقَائِقِ: 2 / 6، الْبَدَائِعَ: 62 / 5).
Menurut Abu Hanifah dan para sahabat beliau : bahwa udhiyah hukumnya wajib setiap setahun sekali bagi orang yang mukim dari penduduk kota, dijelaskan oleh At-Thohawi dan yang lainya : bahwasanya perkataan Abu Hanifah : wajib, adapun menurut para sahabat beliau ( Abu Yusuf dan Muhammad ) : sunnah muakadah.
سنن ابن ماجه ٣١١٤: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
Sunan Ibnu Majah 3114: dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memiliki keluasaan (untuk berkorban) namun tidak berkorban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”
وَقَالَ غَيْرُ الْحَنَفِيَّةِ( بِدَايَةُ الْمُجْتَهِدِ: 415 / 1، الْقَوَانِينُ الْفِقْهِيَّةُ: ص 186، الشَّرْحُ الْكَبِيرِ: 118 / 2): إِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ غَيْرُ وَاجِبَةٍ، وَيَكْرَهُ تَرْكَهَا لِلْقَادِرِ عَلَيْهَا. وَذَلِكَ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ عَلَى الْمَشْهُورِ لِغَيْرِ الْحَاجِّ بِمِنَى. وَالْأَكْمَلُ عِنْدَهُمْ لِلْقَادِرِ أَنْ يُضْحِيَ عَنْ كُلِّ شَخْصٍ عِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ، فَإِنْ أَرَادَ إِنْسَانُ أَنْ يُضْحِيَ بِنَفْسِهِ عَنْ كُلِّ مَنْ عِنْدَهُ مِمَّنْ تَجِبُ عَلِيْهِ نَفَّقَتَهُ جَازَ فِي الْمَذْهَبِ.
وَهِي عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ سِنَّةٌ عَيْنٌ لِلْمُنْفَرِدِ فِي الْعُمْرِ مَرَّةً، وَسُنَّةٌ كِفَايَةٌ إِنْ تَعَدُّدَ أهْلُ الْبَيْتِ، فَإِذَا فَعَلَهَا وَاحِدٌ مِنْ أهْلِ الْبَيْتِ، كَفَى عَنِ الْجَمِيعِ.
Adapun selain Hanafiyah : bahwa udhiyah hukumnya sunnah muakadah tidak wajib, dan makruh hukumnya meninggalkan bagi yang mampu, ini menurut Malikiyah menurut pendapat yang masyhur selain dari orang yang berhaji. Yang sempurna menurut mereka bagi yang mampu hendaklah melakasanakan udhiyah masing-masingnya satu udhiyah, namun jika seseorang hendak berkurban untuk diri dan seluruh yang ia tanggung nafkahnhya maka boleh menurut madzhab ( Maliki ). Adapun menurut Syafi’iyah, sunnah ‘ain bagi pribadi seumur hidup sekali, dan sunah kifayah apabila anggota keluarganya bermacam-macam, apabila salah satu telah melaksanakan dari anggota keluarga maka sudah mencakup yang lainya.
صحيح مسلم ٣٦٥٣: عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا قِيلَ لِسُفْيَانَ فَإِنَّ بَعْضَهُمْ لَا يَرْفَعُهُ قَالَ لَكِنِّي أَرْفَعُهُ
Shahih Muslim 3653: dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” Dikatakan kepada Sufyan, “Sebagian orang tidak memarfu’kan (hadits ini)?” Sufyan menjawab, “Akan tetapi saya memarfu’kannya.”
UDHIYAH UNTUK ORANG LAIN :
الْأُضْحِيَةُ عَنِ الْغَيْرِ: قَالَ الشَّافِعِيَّةُ( مغنِي الْمُحْتَاجِ: 292 / 4، الْمَحَلَّي عَلَى الْمِنْهَاجِ: 255 / 4.): لَا يُضْحَى عَنِ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ، وَلَا عَنْ مَيْتٍ إِنْ لَمْ يُوصِ بِهَا، لِقَوْلَهُ تَعَالَى:{ وَأَنَّ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى}[ النَّجْمَ: 39 / 53] فَإِنْ أَوْصَى بِهَا جَازَ
Tentang udhiyah untuk orang lain : menurut syafi’iyah : tidak ada udhiyah untuk orang lain tanpa adanya izin dari yang bersangkutan, dan tidak pula udhiyah untuk mayit kecuali jika ia berwasiat, berdasarkan firman Alloh ( dan tidaklah bagi manusia itu kecuali yang ia usahakan ), namun jika ia berwasiat maka tidak mengapa.
وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ( الشَّرْحُ الْكَبِيرُ: 122 / 2.): وَكَرَهَ فَعْلَهَا عَنْ مَيْتٍ إِنْ لَمْ يَكْنْ عَيَّنَهَا قَبْلَ مَوْتِهِ، فَإِنْ عَيَّنَهَا بِغَيْرِ النَّذْرِ، نَدَبَ لِلْوَارِثِ إِنْفَاذَهَا.
Menurut Malikiayah : makruh udhiyah untuk mayit jika ia tidak berniat sebelum kematianya, apabila ia berniat sebelumnya bukan merupakan nadzar, dianjurkan bagi ahli waris untuk menunaikanya.
وَقَالَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ( رَدُّ الْمُحْتَارِ وَالدُّرُّ الْمُخْتَارُ: 229 / 5، كَشَّافُ الْقِنَاعِ: 18 / 3.): تُذْبَحُ الْأَضْحَيَةُ عَنْ مَيِّتٍ، وَيَفْعَلُ بِهَا كَعَنْ حَيٍّ مِنَ التَّصَدُّقِ وَالْأَكْلِ، وَالْأَجْرُ لِلَمِيِّتِ، لَكِنَّ يُحْرَمُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ الْأَكْلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الَّتِي ضَحَى بِهَا عَنِ الْمَيِّتِ بِأَمْرِهِ.
Menurut Hanafiyah dan Hanabilah : boleh menyembelih udhiyah untuk mayit, mengamalkan ( hukum terkait dengan udhiyah ) sebagaimana ia masih hidup dalam sedekah dan dimakan, dan pahalanya untuk mayit, namun haram hukumnya memakan dagingnya (bagi keluarga si mayit ) menurut hanafiyah.
Nah itulah pengertian , di syari’atkan dan perbedaan hukum terkait dengan udhiyah atau kurban, baik itu hukum pelaksanaanya ataupun niatan untuk diri sendiri seluruh keluarga atau untuk orang lain baik itu masih hidup atau yang sudah tiada.
الكتاب: الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ (الشَّامل للأدلّة الشَّرعيَّة والآراء المذهبيَّة وأهمّ النَّظريَّات الفقهيَّة وتحقيق الأحاديث النَّبويَّة وتخريجها)
المؤلف: أ. د. وَهْبَة بن مصطفى الزُّحَيْلِيّ، أستاذ ورئيس قسم الفقه الإسلاميّ وأصوله بجامعة دمشق – كلّيَّة الشَّريعة