Oleh : Abdulloh Al-Hanif
سنن الترمذي ١٧٤١: حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا مَعْنٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَافَهُ ضَيْفٌ كَافِرٌ فَأَمَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ فَحُلِبَتْ فَشَرِبَ ثُمَّ أُخْرَى فَشَرِبَهُ ثُمَّ أُخْرَى فَشَرِبَهُ حَتَّى شَرِبَ حِلَابَ سَبْعِ شِيَاهٍ ثُمَّ أَصْبَحَ مِنْ الْغَدِ فَأَسْلَمَ فَأَمَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ فَحُلِبَتْ فَشَرِبَ حِلَابَهَا ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِأُخْرَى فَلَمْ يَسْتَتِمَّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مَعْيٍ وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ سُهَيْلٍ
Sunan Tirmidzi 1741: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Musa Al Anshari, telah menceritakan kepada kami Ma’n, telah menceritakan kepada kami Malik dari Suhail bin Abu Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan tamu seorang kafir, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk didatangkan seekor kambing dan memeras susunya. Maka laki-laki kafir itu pun meminumnya, kemudian diperaskan lagi dan diminumnya lagi, diperaskan lagi dan diminumnya lagi hingga ia menghabisnya tujuh bejana susu. Lalu pada esok hari ia masuk Islam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan agar laki-laki itu diperaskan susu kambing. Maka laki-laki itu meminumnya, sesudah itu ditawarkan lagi padanya, namun tidak ia tidak sanggup untuk menghabiskannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin itu hanya minum dengan satu usus, sementara orang kafir minum dengan tujuh usus.” Abu Isa berkata: Ini adalah hadits shahih gharib dari haditsnya Suhail.
SUMBER MUSIBAH :
Sumber dari segala musibah adalah syahwat perut. Karena syahwat perutlah nabi Adam dan Hawa diusir dari surga dikarenakan keduanya tidak mampu menahan syahwat perut, yaitu memakan pohon yang Alloh larang untuk didekati. Dari perut pulalah syahwat kemaluan bergejolak, orang yang selalu menurutkan syahwat perutnya akan sulit untuk mengendalikan syahwat kemaluanya. Ia akan sangat berkeinginan kepada wanita ( berkeinginan kepada pria jika wanita ), Syahwat kemaluan itu akan diikuti dengan keinginan untuk bermegah-megahan di dunia, karena kemegahan sangat erat kaitanya untuk merealisasikan syahwat perut dan kemaluan. Dengan harta orang akan berhayal dapat mencicipi segala jenis makanan, dan dengan harta pula orang berkeinginan untuk merasakan segala macam perempuan. Penyakit ini akan diikuti dengan penyakit dengki yang kemudian beranaklah menjadi riya’, sum’ah, dan sombong.
FAIDAH LAPAR :
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa perut adalah sumber dari musibah dan syahwat kemaluan, untuk itu menahan hasyrat dan syahwat perut adalah pilihan, dan hal itu dilakukan dengan melatih lapar. Berikut beberapa faidah menahan lapar :
- Lapar menjadikan hati bersih, cerdas akal dan ketajaman mata hati. Sedangkan kenyang itu dapat menjadikan hati keras, akal lemah dan redupnya bashiroh. Orang yang banyak makan akan cenderung susah menghafal dan malas beribadah.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, hendaklah engkau lapar, karena lapar itu kehinaan bagi nafsu, kehalusan bagi hati, dan lapar itu mewarisi pengetahuan samawi.
- Sarana melihat sisi kelemahan dan kehinaan pada diri. Orang yang tidak mampu mawas diri ia akan dikuasai oleh kesombongan dirinya, pada saat seperti itu ia akan mudah sekali mengumbar hawa nafsu, dihinggapi rasa dengki dan penyakit hati yang lain. Dengan mawas diri, orang akan mudah untuk tunduk kepada Ilahi, tidak sombong dengan apa yang dimiliki.
- Sarana melatih diri dan kesadaran akan ujian yang akan ditimpakan kepada orang mukmin. Kekenyangan akan membuat orang lupa bagaimana rasanya lapar, ia tidak akan mampu menahan ujian yang berat karena ia tidak pernah melatihnya. Dengan lapar, hakikatnya ia sedang menmpa diri dengan kesabaran ketika suatu saat Alloh tinggikan derajatnya dengan ujian dan musibah.
- Sarana melumpuhkan nafsu untuk melakukan tindakan tercela. Sumber dari amalan buruk adalah nafsu dan tenaga, sedangkan sumber dari hawa nafsu dan tenaga adalah makanan, maka menyedikitkan makan berarti telah berusaha untuk mengekang dan mengendalikan hawa nafsu dari memerintahkan fisik kepada amalan yang tidak baik ( maksiat ) . A’isyah rodhiyallohu anha berkata , “ bid’ah pertama yang terjadi setelah Rosululloh adalah kekenyangan. Jika orang sudah kenyang perutnya, niscaya nafsunya terhadap dunia tidak akan tertahan.
- Upaya menyedikitkan tidur. Imam Ghazali menceritakan, “ guru kami berkata ketika dihidangkan makanan kepada beliau, belaiu berkata, “ wahai para murid, janganlah kalian banyak makan sehingga banyak minum, lalu kamu akan banyak tidur dan banyak pulalah kerugianmu “
- Memudahkan untuk rajin beribadah. Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “ siapa yang kenyang niscaya masuklah ia kedalam enam bahaya, hilangnya rasa manis bermunajat, sukar memelihara hikmah, tidak mempunyai belas kasihan kepada manusia, kerena jika ia telah kenyang, ia mengira bahwa semua orang kenyang. Berat melakukan ibadah, bertambah nafsu syahwatnya, dan kaum muslimin yang lain berputar keliling masjid dan orang ini hanya berputar keliling kakus “.
- Dengan sedikit makan badan menjadi sehat dan tidak banyak ragam penyakit yang hinggap. Sesungguhnya sumber dari penyaakit adalah sisa makanan dalam perut besar, dan penyakit itulah yang menghalangi manusia untuk rajin beribadah, badanya menjadi lemah karena penyakit yang menggerogotinya. Hati menjadi tidak tenteram dan tidak tenang dalam berdzikir.
Pada suatu hari Harun Ar-Rasyid mengumpulkan para tabib ternama, diantarnya ada yang datang dari India, Romawi, Irak dan Su’adil Irak. Lalu beliau bertanya kepada para tabib itu, “ terangkanlah obat yang tak ada penyakit padanya ? “.
Tabib India menjawab, “ obat yang tidak ada penyakit padanya adalah Hulailij hitam “.
Tabib Irak menjawab, “ biji batang Rosyad yang putih “
Tabib Romawi menjawab “ air panas “.
Tabib Su’adil-Irak, “ menurutku Hulailij itu melipatkan perut besar, dan ini penyakit. biji batang Rosyad yang putih menjauhkan perut besar dari tempatnya, ini juga penyakit. Sedangkan air panas itu melemputkan perut besar, dan ini juga penyakit. Menurutku, obat yang tidak berefek penyakit adalah, tidak makan sebelum engkau benar-benar menginginkan dan mengangkat tangan sedangkan engkau masih menginginkanya “. Para tabib yang lain pun menjawab, “ engkau benar “.
- Menghemat perbelanjaan. Orang yang membiasakan diri lapar, akan lebih mudah qona’ah dengan apa yang ia makan. Sebaliknya, orang yang membiasakan diri kenyang akan menunutut untuk dipuaskan dengan berbagai makanan yang akhirnya ia akan menghamburkan banyak urng untuk memenuhi tuntutan perutnya.
- Memudahkan untuk bersedakah. Dengan makanan yang sedikit ia makan, selebihnya dapat ia gunakan untuk bersedekah untuk anak-anak yatim, orang-orang miskin yang kelaparan. Sebaliknya, orang yang memenuhi syahwat perutnya akan menjadi orang yang rakus terhadap makananya sendiri, enggan berbagi dengan orang lain karena ia takut lapar.
KESIMPULAN :
Untuk mengendalikan segala syahwat yang ada dalam diri kita, langkah awalnya adalah dengan melatih lapar. Sebagian ulama’ salaf mengatakan, “ lapar adalah kunci akhirat dan pintu zuhud, sedangkan kenyang adalah kunci dunia dan pintu kesombongan “. Minimalnya tidak terlalu kenyang ketika makan dan tidak makan kecuali dibutuhkan adalah tindakan bijaksana yang mudah-mudahan bisa menjadi sarana mengendalikan syahwat kita.
RUJUKAN
- Ihya ulumuddin Imam Al-Ghozali
- Mukhtashor minhajul qosidin Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.