SYAHWAT KEMALUAN Website Administrator October 4, 2024

SYAHWAT KEMALUAN

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

Syahwat kemaluan diciptakan Alloh bagi manusia untuk dua faidah. faidah pertama, agar manusia dapat menggambarkan bagaimana kenikmatan akhirat, karena akhirat atau surga itu diisi dengan kenikmatan, sedangkan manusia tidak akan mempunyai hasrat untuk mendapatkan surga jika ia tidak memiliki gambaran sama sekali bagaimana indah dan nikmatnya menjadi penghuni surga. Faidah kedua, dengan adanya syahwat kemaluan, memungkinkan manusia untuk mendapatkan keturunan, dan itu merupakan tujuan dari pernikahan, agar supay terjadi keberlangsungan hidup manusia.

Jika syahwat kemaluan tidak dikendalikan secara adil, sehingga keluar dari dua faidah tersebut, maka pada saat itulah syahwat kemaluan tersebut dikatakan berlebihan dan menjadi sarana bermaksiyat kepada Alloh. Syahwat kemaluanya hanya menjadi ajang untuk memuaskan nafsu semata, bahkan tidak meletakanya pada tempat yang telah dihalalkan baginya, ia tidak puas dengan apa yang dimiliki berupa istri yang sah, akhirnya terjerumus kepada perbuatan zina.

PESAN NABI SHOLALLOHU ALAIHI WASALAM :

صحيح مسلم ٤٩٢٥ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita.” Sedangkan di dalam Hadits Ibnu Basyar menggunakan kalimat: ‘liyandlur kaifa ta’malun.’ (Kemudian Allah (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu).'( HR. Muslim )

مسند أحمد ٢٠٨٢٨: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا التَّيْمِيُّ وَإِسْمَاعِيلُ عَنِ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا تَرَكْتُ فِي النَّاسِ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ

Musnad Ahmad 20828: Telah bercerita kepada kami Yahya bin Sa’id telah bercerita kepada kami At Taimi. Dan Isma’il (juga meriwayatkan) dari At Taimi dari Abu ‘Utsman dari Usamah bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidaklah aku meninggalkan suatu fitnah untuk manusia yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki melebihi (fitnahnya) kaum wanita.”

Masih banyak hadits yang lain yang memberikan peringatan keras akan bahaya syahwat kemaluan, yaitu kecenderungan terhadap wanita demikian pula sebaliknya, wanita terhadap lelaki.

SEBAB FITNAH SYAHWAT KEMALUAN :

Sebab terbesar tidak terbendungnya syahwat kemaluan secara garis besar ada dua. Pertama, karena banyak memandang, dan yang Kedua, karena banyak berhayal.

  1. Banyak memandang terutama yang bukan mahramnya :

Terkait dengan bahaya memandang ini, Alloh Ta’ala memperingatkan dalam frman-Nya :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ , وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ 

“ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” ( Qs. An-Nur 30-31 )

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

oleh Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, jiwa mengkhayal dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya”. ( HR. Bukhori hadits no. 6122 )

begitulah prosesnya, mata yang memandang akan mengirim pesan kepada pikiran, mulut mengungkapkan dan pikiran berhayal atau membayangkan untuk kemudian kemaluan yang membenarkan atau mendustakan.

  1. Berhayal :

Berhayal sendiri merupakan tindak lanjut dari pandangan mata, dari pandangan itulah otak kita memiliki data untuk memvisualkan. Hayalan yang diikuti terus menerus akan menumbuhkan kerinduan dan kegundahan yang menunutut untuk ditumpahkan, tidak sedikit orang yang akhirnya terjerumus kepada perbuatan zina karena terlalu banyak menghayalkan wanita atau demikian juga wanita yang memikirkan pria.

TERAPI :

  1. Untuk terapi menjaga pandangan adalah dengan menikah, sebagaimana yang disampaikan oleh rosululloh sholallohu alaihi wasalam :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ عَلَيْكُمْ بِالْبَاءَةِ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, menikahlah! Karena (nikah) itu lebih bisa menjaga pandangan dan kemaluan kalian. Barangsiapa yang belum mampu, berpuasalah. Sebab, puasa itu adalah perisai.” ( HR. Tirmidzi no.1001 ).

Jelas disini bahwa terapi untuk menjaga pandangan adalah menikah, dengan menikah berarti telah memiliki labuhan hati dan keinginan sehingga dapat mencurahkanya kepada pasangan dan sirnalah keinginan terhadap yang bukan haknya.

  1. Adapun terapi banyak berhayal adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Alloh, bermajlis dengan ahli ilmu dan ahli ibadah, menjalani puasa untuk menekan hawa nafsu sebagaimana telah disebutkan dalam hadits diatas, mengisi hari-hari dengan ibadah dan yang terpenting adalah meminta perlindungan kepada Alloh dengan mendirikan sholat. Sholat ibarat bahtera, sedangkan dunia ibarat lautnya. Orang yang tenggelam dalam kehidupan dunia laksana masuk kedalam lautan yang luas, semakin kedalam dia semakin tidak tahu dimana tepinya, terkadang laut itu bergelombang, itulah syahwat manusia. Orang yang cerdas tidak akan menenggelamkan diri kedalam lautan, ia akan tetap bisa berjalan dilautan dengan mengendarai bahtera tanpa harus tenggelam, dan bahtera lautan kehidupan itu adalah sholat. Sholat yang akan mencegah perbuatan keji dan mungkar, sedangkan zina adalah perbuatan yang keji lagi mungkar.

MAROJI’ :

  1. Ihya ulumuddin Imam Al-Ghozali
  2. Minhajul Qosidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  3. Ad-Dau wad-Dawa Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah
  4. Talbis Iblis Ibnul Jauzi
  5. Ilmul auliya’ Al-Hakim At-Tirmidzi.