Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Dalam diri manusia terdapat segumpal darah yang memegang kendali keinginan dan keputusan untuk melakukan perbuatan. Segumpal darah itu adalah hati. Tentang peranan hati bagi jasad, rosululloh sholallohu alaihi wasalam bersabda :
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“ Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Shahih Bukhari 50 )
HATI SINGGASANA JIWA :
Dalam salah satu definisi yang disampaikan oleh Imam Al-Ghozali dalam ihya ulumuddin, hati merupakan organ yang memiliki rongga, dan rongga itulah sumber ruh manusia. Dalam kata lain, hati merupakan tempat berdiamnya ruh atau jiwa manusia, dari sana jiwa atau ruh itu bergerak dan menggerakan seluruh orga tubuh manusia. Maka hati merupakan singgasana jiwa.
Laksana singgasana kerajaan, hati juga perlu dipertahankan dari segala usaha untuk merebut dari kekuasaan jiwa kita, setan, adalah musuh yang akan selalu berusaha merebut dan menguasai hati kita, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“ dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. “ ( Qs. Al-Baqoroh )
Setan adalah musuh yang ingin menguasai singgasana kita, jika ia berhasil mengalahkan jiwa kita maka jiwa kita akan menjadi budak setan, saat itulah jiwa kita menjadi jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan ( amarotu bissu’ ). Jika kita selalu berperang dengan setan, tabi’at perang itu kadang menang kadang juga kalah, pada saat itu jiwa kita dalam posisi selalu menyesal, menyesal atas kekalahan kita dan menyesal dengan kemenangan yang tidak sempurna ( jiwa lawwamah ). Adapun jika kita telah mampu menundukan setan, keberadaanya tidak lagi mengganggu keteguhan jiwa kita, maka pada saat itulah kita menjadi jiwa yang tenang ( muth mainnah ).
PASUKAN HATI :
Kerajaan akan kokoh jika memiliki pasukan yang kuat, demikian pula hati, hati akan menjadi kokoh jika ditopang oleh pasukan yang kuat pula. Secara garis besar, pasukan hati ada dua macam, pasukan yang terlihat dan pasukan yang tidak terlihat. Pasukuan yang terlihat adalah seluruh anggota badan yang dimiliki manusia, berupa mata, telinga, mulut, tangan , kaki dan anggota tubuh lainya yang memegang peran sebagai pelaksana dari pada perintah yang diberikan oleh hati kepadanya.
Sedangkan pasukan yang tidak terlihat meliputi, syahwat, cinta, benci, rindu dan lain sebagainya. Dua pasukan itu selalu bersinergi satu dengan yang lain membentuk satu kesatuan tindakan. Bayangkan jika singgasananya dikuasai oleh syetan, jiwa menjadi budaknya, maka seluruh tentara yang ada akan bergerak, bersinergi menimbulakn kerusakan didunia. Kerusakan yang bersifat aqidah, ibadah dan amaliyah. Sebaliknya jika singgasana dikendalikan oleh jiwa yang tenang, seluruh gerak tentara itupun akan tenang, terkendali dan akhirnya menimbulkan ketentraman, kedamaian dan ketenangan dalam kehidupan.
PENUTUP :
Brgitulah hakikat perseteruan kita dengan setan, kita mempertahankan singgasana jiwa kita agar seluruh gerak yang dilakukan bernilai ibadah kepada Alloh, karena jiwa kita sebagai raja dari singgasana itu mengabdi kepada Alloh, namun jika jiwa itu mengabdi kepada setan, maka tindakanyapun akan diarahkan untuk mendapatkan keridhoan setan, dan jika jiwa telah menjadi budak setan, hati yang merupakan singgasananya pun akan menjadi keras, teguh pendirian untuk mengabdi kepada setan. Na’udzubillahi min dzalika.
SUMBER BACAAN :
- Ihya ulumuddin Imam Al-Ghazali
- Minhajul Qosidin Imam Ibnu Qudamah