SHALAT MADRASAH JIWA Website Administrator October 4, 2024

SHALAT MADRASAH JIWA

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

Sesungguhnya Alloh telah mengaruniakan Islam kepada kaum muslimin. Ia memerintahkan mereka untuk bersimpuh  di hadapan-Nya dengan mengerjakan sholat. Bukan sekedar gerakan dan bacaan hampa, lebih dari itu sholat merupakan sarana mengingat dan bertobat kepada Alloh Ta’ala.

DIMULAI DARI TOHAROH :

Alloh tidak rela jika hamba-Nya menghadap dengan tubuh yang kotor lagi najis, maka Ia perintahkan hamba-Nya untuk membersihkan diri dari segala kotoran dan najis agar hatinyapun bersih dari debu-debu yang ditebarkan oleh setan. Alloh berfirman dalam Al-Qur’an :

يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“ Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” ( Qs. Al-Maidah 6 )

Kebersihan lahir dan batin merupakan kenikmatan yang sempurna. Begitu penting persolana bersuci dan berpenampilan yang baik ketika menghadap Alloh sangat mempengaruhi kesuksesan kita dalam membersihkan hati kita. Orang yang memperhatikan penampilan dihadapan Alloh sejatinya merupakan gambaran kerinduanya kepada Alloh dan pengagungan kepadanya. Rosululloh bersabda :

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci adalah setengah dari iman,” ( HR. Bukhori )

Orang yang hendak mensucikan hatinya hendaklah terlebih dahulu ia sucikan dirinya, ia sucikan tempat tinggalnya dari segala kotoran dan najis, karena sesungguhnya kotoran diluar merupakan gambaran sampah yang ada didalam.

MELATIH HATI :

Ketahuilah sholat itu mempunyai rukun, yang wajib dan yang sunnah. Sedangkan ruhnya adalah niat, ikhlas dan khusyu’ dan keterlibatan hati. Sholat itu meliputi dzikir, munajat dan perbuatan. Tanpa melibatkan hati tidak ada yang dapat dicapai dari dzikir dan munajat. Sebab ucapan yang tidak selaras dengan apa yang terkandung dalam sanubari, kedudukanya sama dengan igauan. Perbuatanpun juga tidak menghasilkan apa-apa, sebab jika tujuan dari berdiri adalah pengabdian, tujuan dari ruku’ dan sujud adalahketundukan dan pengagungan, sementara perbuatan ini sama sekali tidak diiringi dengan kehadiran hati, maka tujuan itupun tidak tercapai. Sebab jika perbuatan keluar dari maksudnya, maka ia tinggal gambar yang tak ada maknanya.

Yang menghalangi hadirnya hati dalam shalat adalah dosa-dosa, sesungguhnya hati yang tertutup dosa-dosa seperti cermin yang berkarat dan bintik-bintik hitam. Apabila kamu memikirkan sesuatu dari urusan akhirat, kamu tidak akan bisa melihat apa yang kamu pikirkan itu pada hati yang kotor. Jika kamu membersihkan hatimu dengan meninggalkan dosa-dosa, hatimu menjadi seperti cermin yang bening. Apabila kamu memikirkan dosa-dosan yang telah kamu lakukan, maka dosa-dosa itu tergambar jelas dalam hati yang bersih sehingga kamu sangat merasa sedih dan menyesal, dan meras menanggung beban yang amat berat.

Apabila kamu memikirkan apa yang telah dipersiapkan Alloh bagi orang yang melakukan kemaksiatan, kamu bergetar dan sangat ketakutan sebab tergambar dengan jelas dalam hatimu besarnya siksa Alloh. Apabila kamu mengingat temoat yang akan didiami oleh orang-orang yang ta’at, semangatmu bangkit dan hatimu melambung kerinduan kepada apa yang kamu bayangkan berupa nikmat dan pahala dari Alloh. Apabila kamu memikirkan apa yang akan terjadi pada hari kiamat, kamu merasa takut dan gelisah serta diliputi rasa malu kepada Alloh.

Itulah gambaran hati yang bersih, ia akan mudah bersimpuh di hadapan Alloh dalam shalat, hatinya larut dalam munajat sebagaimana yang dialami oleh para sholihin. Apabila Abdulloh bin Zubair sudah mendirikan shalat, maka seakan-akan ia sebatang pohon, karena khusu’nya. Saat ia sujud lalu ada beberapa ekor burung yang hinggap dipunggunya, hal itu tidak membuatnya terusik. Suatu hari dia sholat didekat hijir Isma’il, lalu Khudzaifah datang ketempat itu dan mengambil sebagian kainya, tapi sepertinya Abdulloh bin Zubair tidak mengetahuinya.

Maimun bin Mihran berkata “ sekalipun aku tidak pernah melihat Muslim bin Yasar menoleh dalam shalatnya, suatu kali sebagian bangunan masjid ada yang roboh, sehingga orang-orang yang ada dipasar menjadi kaget karenanya, saat itu pula Muslim bin Yasar berada di dalam masjid mendirikan shalat, tetapi dia sama sekali tidak menoleh. Biasanya anggota keluarganya diam saat beliau masuk rumah, tapi jika beliau sudah mendirikan sholat maka keluarganya berbicara dan tertawa.

MAROJI’ :

  1. Minhajul Qosidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  2. Ilmul auliya’ Al-Hakim At-tirmidzi