Oleh : Abdulloh Al-Hanif
صحيح البخاري ٥٦٢٩: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta.” ( HR. Bukhori )
Hari ini kejujuran ibarat berlian yang tak ternilai harganya, karena kejujuran sudah sangat susah dicari. Suasana dusta yang menggelayuti kehidupan manusia menyebabkan manusia sulit percaya terhadap saudaranya, budaya saling memata-matai menjadi hal yang lazim dan biasa. Meski demikian kejujuran akan tetap bersinar ibarat bulan purnama ditengah malam gulita.
DERAJAT KEJUJURAN
Jujur adalah sebuah sebutan untuk mengungkapkan hakikat sejatinya dari suatu perkara baik secara hasil maupun keberadaanya. Jujur sendiri mempunyai beberapa tingkatan, diantaranya adalah sebagai berikut :
- Kejujuran lisan
Kejujuran lisan dengan berkata benar dan menjauhi segala ucapan bohong, seseorang yang selalu mengatakan yang bukan seperti kenyataanya maka kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Alloh Azza wa Jalla. Terkadang kebohongan-kebohongan yang keluar dari mulut seseorang akan menjadikan dirinya dicap sebagai seorang pembohong yang hanya mengobral janji tanpa ada bukti, mengurai kata-kata tanpa ada fakta kejadianya.
Seseorang diperbolehkan berbohong hanya dalam tiga perkara, pertama, berbohong untuk mendamaikan dua saudara yang bertikai, kedua, siapa yang memilki dua orang istri, dan yang ketiga, berbohong dalam peperangan. Dalam tiga kondisi ini boleh berbohong dengan catatan demi kemaslahatan dan bukan semata demi nafsu belaka.
Orang yang mengaku sebagai hamba Alloh padahal sejatinya ia tidak mau beribadah kepada Alloh, kelak akan Alloh mintai pertanggungjawaban atas ucapanya itu, begitu seterusnya sehingga lisan yang mengucapkan tentang suatu hal hendaklah hal itu adalah kenyataan dan bukan sekedar omong kosong tanpa isi.
- Kejujuran niat dan tujuan
Kejujuran dalam niat dan tujuan kembalinya kepada ikhlas. Yaitu tidak ada sesuatu yang tuju dalam gerak dan diamnya kecuali hanya Alloh semata. Jika masih ada tujuan yang lain dari pada jiwa maka batalah keikhlasan itu.
- Kejujuran tekad
Yaitu tidak ada tekad yang bulat dalam menjalankan suatu perkara kecuali hanya untuk Alloh semata tidak ada sedikitpun unsur keraguan sehingga ia kuat mempertahankan tekadnya dan tidak berpaling sedikitpun kepada yang lainya.
- Jujur dalam melaksanakan tekad
Terkadang bertekad itu merupakan perkara yang mudah, yang sulit adalah menjaga tekad itu ditengah perjuangan dalam melaksanakanya. Banyak orang yang gugur dari tekadnya karena tidak mampu mengendalikan keinginan syahwatnya.
- Jujur dalam beramal
Jujur dalam beramal ini terungkap dalam keseriusan seseorang untuk merealisasikan amal, sehingga tidak ada satupun amal perbuatan yang dilakukan berbeda dengan apa yang terucap didalam hati. Seorang muslim yang jujur tidak akan dijumpai perbedaan antara apa yang dirasa dalam hati dan apa yang diungkapkan dalam tindakan.
PENUTUP
Itulah ragam kejujuran yang musti diperjuangkan oleh setiap muslim, sehingga ia dikenal sebagai orang jujur, bukan hanya di alam manusia tetapi juga kelak setelah menghadap Alloh Ta’ala. Sungguh kejujuran merupakan barang berharga yang tidak ternilai dengan harta, kejujuran ibarat kaca apabila kaca itu dipecah maka sulit untuk dapat mengembalikan semula. Demikian juga kata-kata dan tindakan bohong, ia tidak akan mudah dilupakan begitu saja oleh orang yang didholimi dengan kebohonganya. Lebih daripada itu keimanan seseorang tidak akan terwujud tanpa adanya kejujuran hati kepada yang maha pencipta. Wallohu a’lam.