KUAS BULU BABI Website Administrator October 4, 2024

KUAS BULU BABI

Oleh : Abdulloh Al-Hanif

Kuas yang terbuat dari bulu babi barangkali pernah kita jumpai, lantas bagaimana hukumnya ?, bolehkah kita pergunakan dan diperjual belikan ?

HUKUM BULU BABI :

Menurut mayoritas ulama’ fiqih, bahwa bulu babi hukumnya adalah najis, sehingga tidak diperbolehkan untuk digunakan, dikarenakan tidak diperbolehkan menggunakan atau memanfaatkan sesuatu yang najis.

Menurut madzhab Syafi’ie, jika seseorang menjahit dengan menggunakan jarum bulu babi maka lobang yang dibuat dengan menggunakan bulu babi tersebut tidak dapat disucikan dengan mencuci yang salah satunya dengan debu. Namun demikian dimaafkan, pakaian tersebut boleh dipergunakan untuk sholat wajib maupun sholat sunnah.

Menurut madzhab Hambali, apabila ketika membuat lobang dengan bulu babi tersebut dalam keadaan basah ( kain maupun bulu babinya ) maka hendaklah dicuci terlebih dahulu sebelum dipakai, namun jika ketika melobangi dalam keadaan kering semua, tidak perlu dicuci karena tidak ada unsur najisnya.

Menurut madzhab Hanafi, memanfaatakan bulu babi untuk jarum jahit diperbolehkan dengan alasan darurat.

Madzhab Maliki, membolehkan secara mutlak penggunaan bulu babi, karena menurut mereka bahwa bulu babi pada prinsipnya tidaklah najis.

HUKUM MENJUAL :

Menurut madzhab Hanafi, tidak diperbolehkan menjual sesuatu yang najis dan bulu babi adalah najis, sehingga tidak boleh menjualnya.

Menurut jumhur ulama’ jika seseorang sangat membutuhkan untuk jarum jahit maka tidak mengapa ia membeli, karena aspek kebutuhan dan darurat, adapun menjualnya tidak diperkenankan oleh syari’at. 

Yang berpendapat boleh diperjual belikan diantaranya adalah Muhammad atas dasar darurat karena belum banyaknya. Juga Ibnu Mundzir dari Al-Auza’i dan Abu Yusuf serta sebagian ulama’ madzahab Maliki

KESIMPULAN :

Kuas yang terbuat dari bulu babi adalah najis menurut jumhur dan tidak najis menurut madzhab Maliki. Maka seyogyanya demi kehati-hatian jangan mempergunakan kuas yang terbuat dari bulu babi, tertuma untuk mengolesi makanan.

Adapun jika dipergunakan untuk mengecat tembok rumah atau yang lainya, maka hal itu diperbolehkan karena termasuk najis yang ma’fu ( dimaafkan ) menurut madzhab syafi’i. Jika ada yang lain tentunya kuas yang lain lebih afdhol.

Tentang menjual kuas dari bulu babi, kalau menurut jumhur, baiknya ditinggalkan dan menjual kuas yang bukan dari bulu babi saja.

Wallohu a’lam.

MAROJI’ :

  1. Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah
  2. Fathul bari Ibnu Hajar Al-Atsqolani jilid 4
  3. Aunul ma’bud syarh sunan abi Dawud Muhammad Asyraf bin Amir jilid 9
  4. Fathus-salam syarh umdatil ahkam Abu Muhammad Abdussalam bin Al-Amir jilid 5
  5. Fathul mun’im syarh shihih muslim DR. Musa Sahin jilid 6