Oleh : Abdulloh Al-Hanif
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. “
Perintah untuk masuk kedalam Islam secara keseluruhan, berarti kita tidak boleh memilih yang mudah-mudah kemudian meninggalkan yang susah. Juga bermakna menjalankan seluruh yang menjadi keputusan Alloh dalam syari’ah yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam.
Dalam persoalan thoharoh atau bersuci, penulis sengaja membahasnya lebih dalam agar kita tidak hanya sempurna dalam hal membersihkan jasad kita, namun lebih dari itu kita harus membersihkan pula hati kita, perilaku kita dan segala hal yang menjadi kotoran iman, kotoran ibadah dan kotoran sosial.
TINGKATAN THOHAROH ( BERSUCI )
- Mensucikan dhohir ( badan ) dari hadats dan najis.
Hadats adalah suatu kondisi yang mana pelakunya dihukumi batal bersucinya, misalnya keluar angin, kencing dan lain sebagainya. Hadats sendiri ada dua macam, hadats kecil, seperti kencing, buang nagin dan lain sebagainya, cara mensucikanya adalah dengan berwudhu. Dan hadats besar seperti junub, haidh, nifas, cara mensucikanya dengan mandi besar.
Adapun najis adalah, kotoran yang apabila mengenai seseorang maka tidak diperbolehkan untuk sholat sebelum kotoran itu dihilangkan.
Makna bersuci dari hadats dan najis, yaitu membersihkan dengan cara berwudhu, mandi atau tayamum.
- Mensucikan diri dari perbuatan dosa
Mensucikan diri dari perbuatan dosa, maknanya adalah meninggalkan segal bentuk perbuatan dosa, baik itu dosa besar maupun dosa kecil, dosa besar adalah dosa yang mendapatkan ancaman hukuman di dunia dan ancaman azab secara khusus di akhirat, misalnya, orang yang berbuat zina, ancaman didunia adalah dirajam dan ancaman diakhirat adalah laknat dan adzab yang pedih. Sedangkan dosa kecil adalah dosa yang tidak mendapatkan ancaman khusus di dunia maupun diakhirat.
- Mensucikan hati dari akhlak yang tercela
Mensucikan diri dari akhlak yang tercela merupakan tingkatan yang lebih berat dari pada tingkatan thoharoh sebelumnya. Harus mengosongkan hati dari segala perasaan yang dapat mendorong kepada perbuatan yang tercela, seperti, dengki, ujub, riya’ dan lain sebagainya.
- Mensucikan hal rahasia dari selain Alloh
Mensucikan hal yang rahasia, merupakan kedudukan para nabi, dimana seseorang telah mampu mencapai puncak tauhid, dimana seluruh sisi kehidupanya hanya difokuskan kepada Alloh Ta’ala semata, tidak ada sedikitpun niatan kepada selain Alloh. Tingkatan thoharoh ini merupakan tingkatan para nabi.
KESIMPULAN :
Betapa banyak orang yang mampu membersihkan dirinya dari noda hadats dan najis namun ia tidak bisa membersihkan perilakunya dari hal-hal yang dilarang oleh Alloh Ta’ala. Ada juga orang yang telah mampu meninggalkan perbuatan dosa kepada Alloh, ia menjalankan sunnah rosululloh dalam pelaksanaan ibadah mahdhoh namun akhlaknya terhadap sesama tidak mencerminkan kesucian amal perbuatanya, merasa paling benar sendiri sehingga memandang orang lain tidak ada nilai keimanan disis Alloh, merasa paling berpegang terhadap sunnah sehingga mudah membid’ahkan yang berbeda denganya padahala bisa jadi itu perkara khilafiyah.
Semestinya kita berusaha untuk mendaki kepada tingkatan thoharoh yang ketiga, yaitu membersihkan hati kita dari segala perasaan yang dapat mendatangkan akhlak yang tidak terpuji, baik itu akhlak kita kepada Alloh Ta’ala, kepada sesama kaum muslimin, sesama manusia, bahkan kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah thoharoh yang akan membawa kita kepada kesempurnaan iman, adapun untuk naik pada tingkatan yang keempat barangkali sangat sulit. Wallohu a’lam.
MAROJI :
- Mausu’ah Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah Ibnu Najar Ad-Dimyati jilid 1
- Taudhihul-Ahkam min Bulughil-Maram Abdulloh bin Abdurrahman Al-Bassam jilid 1
- Ihya’ ulumuddin Imam Al-Ghazali jilid 1
- Minhajul-Qasidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.