KULTUM 9
AGAR MUSIBAH MENJADI BERKAH
Assalamu alaikum wa rohmatullahi wabarokatuh
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
Segala puji kita haturkan kehadirat Alloh subhanahu wata’la, shalawat dan salam ke atas nabi kita Muhammad sholallohu alaihi wasalam, para keluarganya, para sahabatnya, para tabi’ien, tabi’uttabi’ien dan bagi seluruh umatnya yang setia mengikut sunnahnya hingga hari kiamat nanti.
Bapak ibu jama’ah rahimakumulloh, dalam kultum kali ini kami akan menyampaikan beberapa hal penjelasan bagaimana kiat agar musibah menjadi berkah
Kita sebagai manusia yang beriman pastilah akan diuji oleh Alloh Ta’ala, karena ujian tersebut adalah sebuah keniscayaan untuk menguji kebenaran iman kita. Hal ini dapat kita lihat dari firman-Nya :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.( Qs. Al-Ankabut 2-3 )
Kesadaran ini sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kita ketika Alloh memberikan musibah kepada kita, dengan menyadari bahwa musibah itu sebuah ujian maka kita akan lebih bersemangat untuk menyelesaikanya, karena siapa saja yang ingin naik kelas maka ia harus mau susah payah meyelesaikan ujian kenaikan.
Untuk itu ada bebarapa tips yang dapat kita kerjakan selain membangun kesadaran bahwa musibah adalah ujian. Tips itu diantaranya adalah :
Pertama: apabila ditimpa musibah hendaklah kita mengucapkan (dengan konsekuen dan mengamalkan maknanya) :
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanyaa kepada-Nya layh kami akan kembali.
Sebagaimana dalam surah al-baqorah ayat 155-156
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” .
Selain membaca do’a istirja’ tersebut, nabi sholallohu alaihi wasalam juga mengajarkan do’a tambahan, sebagaimana dalam hadits :
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ{ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ }اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
dari Ummu Salamah bahwa ia berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).’ melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.” ( HR. Muslim )
bapak ibu rahimakumulloh, dengan keyakinan tersebut, maka ujian musibah akan menjadi kebaikan dan rahmat serta barokah bagi kita.
Kedua, hendaklah kita yakin akan takdir Allah, baik dan buruk. Hal ini sangat penting bagi seorang yang tertimpa musibah . ketika dia yakin , insya Allah musibah ini akan terasa ringan bagi mereka.
Hal itu sebgaimana dijelaskan dalam firman-Nya :
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri [ QS. Al-hadid : 22-23 ]
Bapak ibu rahimakumulloh, jadi, segala hal yang terjadi di muka bumi ini, baik yang menimpa pribadi atau kelompok manusia, sebenarnya tidak lepas dari kehendak Alloh yang maha kuasa, maka dari itu kita sebagai hamba hendaklah menerima dengan lapang dada, juga belum tentu musibah itu berefek keburukan bagi kita, bisa jadi musibah itu akan membawa kebahagiaan bagi kita di masa yang akan datang.
Ketiga, ketika tertimpa musibah hendaklah kita meneladani dan mellihat orang lain yang tertimpa musibah seperti kita sehingga terasa ringan bagi kita. Tidak hanya kita sendirian yang tertimpa musibah, bahkan tidak sedikit orang yang tertimpa musibah lebih berat dari kita.
Berkata Ibnu Qoyyim : sesungguhnya kalau manusia memeriksa seluruh penduduk bumi, yang dia lihat adalah orang-orang yang tertimpa musibah. Berpaling ke kiri dan ke kanan tidaklah terlepas dari orang-orang yang tertimpa musibah.
Bapak ibu jama’ah rahimakumulloh, Penderitaan yang dirasakan sendiri terasa lebih berat, tapi jika ada orang lain menderita dengan penderitaan yang sama atau bahkan lebih berat dari darinya, terasa ringan baginya. Namun bukan berarti ini senang dengan penderitaan orang lain.
Keempat, tidak berkeluh kesah apalagi menggerutu.
Bapak ibu rahimakumulloh, keluh kesah dan menggerutu atas musibah yang menimpa kita tidak menghilangkan musibah yang dialami, bahkan akan bertambah berat.
Al-imam Ibnu Qoyyim Al-Jauzityah berkata: sesungguhnya engkau saksikan banyak dari manusia yang tertimpa sedikit dari musibah dia mengatakan wahai tuhanku apa dosaku hingga engkau memberikan musibah seberat ini kepadaku?. Dia berprasangka buruk kepada Allah dan meresa dirinya suci, bebas dari dosa. Padahal manusia tidak terlepas dari dosa dan khilaf.
Untuk itu, marilah kita berusaha untuk menerima apapun yang diputuskan Alloh kepada kita, jika itu merupakan musibah dan ujian, semoga akan menghapuskan dosa-dosa kita, sehingga kelak kita menghadap Alloh dalam keadaan suci dari dosa-dosa. Amin ya Rabbal alamin.
Demikian kultum yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat, kurang dan lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya, billahittaufik wal hidayah, wassalamu alaikum wa rahmatullohi wa baraokatuh.