Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Seseorang tidak akan sampai kepada kehidupan yang bahagia hingga ia menjadi orang yang berilmu kemudian beramal ibadah dengan ilmunya. Semua manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, semua orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal dengan ilmunya, semua orang yang beramal dengan ilmunya akan binasa kecuali yang mengikhlaskan amalnya, dan semua orang yang ikhlas selalu berada dalam ancaman besar ( yaitu batalnya keikhlasan ). Berkata Ayyub As-Sahtiyani, “ mengikhlaskan niat dalam beramal lebih berat dari seluruh amal “.
Betapa pentingnya peranan ikhlas dalam amal maka semestinya kita menelisik lebih dalam apa pengertian ikhlas ,bagaimana cirinya dan bagaimana pula menjaganya.
DIPERINTAHKANYA IKHLAS
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” ( Qs. Al-bayyinah 5 )
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama” ( Qs. Az-Zumar 11 )
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْقِتَالُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“ Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang disebut dengan perang fi sabilillah (di jalan Allah)? Sebab di antara kami ada yang berperang karena marah dan ada yang karena semangat?” Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arah orang yang bertanya, dan tidaklah beliau angkat kepalanya kecuali karena orang yang bertanya itu berdiri. Beliau lalu menjawab: “Barangsiapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka dia perperang di jalan Allah ‘azza wa jalla.” ( HR. Bukhori no. 120 )
PENJELASAN TENTANG IKHLAS
Para ulama’ memberikan penjelasan tentang ikhlas dalam ungkapan-ungkapan yang dapat kita fahami sebagai berikut :
قال يعقوب المكفوف: المخلص من يكتم حسناته كما يكتم سيئاته.
Berkata Ya’qub Al-Makfuf : “ orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan amal kebaikanya seperti halnya ia menyembunyikan amal keburukanya “
قال سليمان: طوبى لمن صحت له خطوة واحدة لا يريد بها إلا الله تعالى.
Berkata Sulaiman : “ beruntunglah bagi orang yang benar, ia hanya memiliki satu tujuan saja yaitu tidak menghendaki kecuali Alloh Ta’ala “
DR. Ahmad Farid menjelaskan, “ ikhlas itu adalah mengesakan tujuan mendekatkan diri kepada Alloh saja dari segala tujuan yang lain “
Ada pula yang mengatakan bahwa ikhlas itu adalah mengesakan Alloh Ta’ala dalam ketaatan.
Ada yang mengatakan, melupakan pandangan makhluk dan memfokuskan kepada pandangan sang Kholiq.
Ibnu Qudamah menuliskan dalam minhajul Qosidin, bahwasanya ikhlas itu adalah lawan dari syirik, siapa yang tidak mengikhlaskan niatnya hanya kepada Alloh maka hakikatnya ia telah berbuat syirik ( menyekutukan Alloh ), hanya saja syirik itu ada tingkatan-tingkatanya.
CIRI-CIRI KEIKHLASAN
Diantara ciri-ciri ikhlas yang dapat kita jadikan acuan adalah sebagai berikut :
- Menyembunyikan amal
Ada seorang yang bertanya kepada Tamim Ad-Dari, “ bagaimana sholat malam anda “ ? Tamim pun marah sekali dan berkata “ demi Alloh, satu roka’at sholat malam yang aku kerjakan secara diam-diam lebih aku cintai dari pada sholat malam semalam suntuk kemudian aku ceritakan kepada orang-orang “.
Ciri pertama dari pada keikhlasan adalah hanya memfokuskan amal kepada Alloh dan tidak menceritakan amal tersebut kepada siapapun juga, ia hanya mempersembahkan amal tersebut kepada Alloh tanpa mempedulikan pandangan manusia.
- Menyembunyikan wajah ( tidak ingin terkenal )
Berkata Ibnu Mas’ud : “ jadilah engkau sumber ilmu, cahaya petunjuk, menetap di rumah, penerang di malam hari, pembeharu hati, sederhana dalam berpakaian, engkau dikenal oleh penduduk langit dan tidak dikenal oleh penduduk bumi “.
Pada suatu hari Maslamah bin Abdul Malik mengepung sebuah benteng musuh, tiba-tiba muncul seorang yang mengenakan cadar, ia maju dan mampu mendobrak benteng musuh sehingga pasukan Maslamah dapat memasuki benteng, Maslamah pun menyeru memanggil orang yang bercadar tersebut, namun tidak ada yang menyahut dan tidak ada yang datang kepada beliau. Maka datanglah seseorang kepada orang yang bercadar tersebut dan ia berkata “ izinkan aku untuk mendatangi panggilanya “, orang bercadar itu berkata “ apakah engkau pemakai cadar itu ? “, orang itu menjawab “ bukan, justru aku akan menyampaikan kabar tentang engkau “.
Kemudian datanglah Maslamah ke tempat itu, orang bercadar itupun meminta izin untuk berkata dan iapun diizinkan, “ sesungguhnya orang bercadar itu meminta tiga syarat kepada kalian “
“ janganlah kisahnya ditulis dalam surat yang akan dikirim kepada Kholifah “
“ jangan kalian perintahkan apapun kepadanya “
“ dan jangan menanyakan siap dia “
Maslamah berkata “ ya baiklah, siapa dia “?
Berkatalah orang itu “ dia adalah aku “
Sejak saat itu tidaklah Maslamah sholat kecuali pasti berdo’a, “ ya Alloh kumpulkanlah aku kelak dengan si pemakai cadar”
- Curiga terhadap diri sendiri
Dari Kinanah bin Jablah As-Sulami, berkata Bakar bin Abdillah, “ jika engkau melihat orang yang lebih besar darimu, maka katakanlah, ia telah mendahului aku dalam keimanan dan amal sholeh, ia lebih baik bagiku. Dan jika engkau melihat ada orang yang lebih kecil darimu maka katakanlah, aku lebih dahulu bermaksiyat dari pada dia dan dia lebih baik bagiku “.
Yunus berkata, “ aku mendengar Muhammad bin Wasi’ berkata, jika seandainya dosa itu menimbulkan bau, maka kalian tidak akan sanggup berdekatan denganku karena bau busuk dari dosa-dosaku “.
Malik bin Dinar berkata, “ demi Alloh seandainya Malik berdiri di pintu masjid, kemudian ia berbicara, dan keluarlah kburukanya dari mulutnya, tentunya kalian semua akan bersegera pergi meninggalkanya “.
Demikianlah hakikat dan tanda-tanda keikhlasan, orang mukmin tentunya selalu mengharapkan hadirnya keikhlasan dalm setiap amal, namun saat itu pula kesulitan untuk ikhlas dirasakan. Agar amal selalu ikhlas, hancurkanlah keinginan mendapatkan keberuntungan jiwa dari manusia, putuskanlah ketamakan terhadap dunia, fokuskanlah segala amal untuk akhirat, hingga hal itu mendominasi hati, jika hal itu telah terjadi niscaya ia akn dimudahkan untuk beramal ikhlas. Berapa banyak orang yang malas beramal lantaran adanya manusia, ia mengira bahwa itu merupakan keikhlasan padahal ia sedang tertipu karena ia tidak melihat adanya petaka karena tidak beramal. Wallohu a’lam.
MAROJI’ :
- Mausu’ah Al-Akhlak waz-zuhdi war-roqoiq Yasir Abdurrahman
- Muhtashor minhajul Qosidin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
- Tazkiyatunnufus DR. Raghib As-Sirjani