Oleh : Abdullah Al-Hanif
Terkait dengan permasalahan kiblat, kaum muslimin di indonesia pada khususnya berselisih pendapat apakah harus tepat menghadap ka’bah ataukah cukup kepada arahnya saja ?, berikut ini sedikit penjelasan semoga bisa menambah pencerahan :
Para ulama’ telah bersepakat bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sahnya sholat, berdasarkan firman Alloh Ta’ala :
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ
Dari mana pun engkau (Nabi Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya ( Qs. Al-Baqoroh 150 )
Kecuali dalam dua keadaan, dimana seseorang boleh mengerjakan sholat tanpa menghadap kiblat, yaitu pada saat yang genting ( takut yang amat sangat ), dan pada saat dalam perjalanan di atas kendaraan.
APAKAH HARUS AINUL KA’BAH ?
Para ulama’ bersepakat bahwa, bagi siapa saja yang sholat di dalam masjidil haram ( dekat dengan ka’bah ) maka wajib menghadap ka’bah. Adapun jika jarak sesorang itu jauh dari ka’bah maka apakah ia harus berusaha menghadap ainul ka’bah atau cukup menghadap arahnya saja ?
MENURUT SYAFI’IYAH DAN HANABILAH :
Di manapun orang berada jika ia hendak mengerjakan sholat maka wajib baginya berusaha untuk menghadap ainul ka’bah, pendapat mereka tersebut disandarkan kepada Al-Qu’an, Assunah dan qiyas.
Adapun dari Al-Qur’an :
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam ( Qs. Al-Baqoroh 144 )
wajhu istidlal ( petunjuk dalil ) dari ayat ini menurut mereka adalah, yang dimaksud dengan Syatr adalah arah yang sejajar lurus bagi orang yang sholat, dan itu terletak pada zenitnya, maka jelaslah bahwa menghadap ainul ka’bah adalah wajib.
Dalil dari assunnah :
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لمَّا دخلَ البيتَ دَعا في نواحيهِ كُلِّها ولم يُصلِّ فيهِ شيئًا حتَّى خرجَ فلمَّا خرجَ صلَّى رَكْعتينِ وقالَ: هَذِهِ القبلةُ
Sesungguhnya rasululloh sholallohu alaihi wasalam ketika beliau masuk ke baitulloh ( ka’bah ) maka beliau berdo’a di setiap dindingnya dan beliau tidak melaksanakan sholat di dalamnya sampai beliau keluar, setelah keluar beliau sholat dua rekaat kemudian bersabda : ini adalah kiblat. ( HR. Bukhari )
Menurut mereka kalimat yang diucapkan oleh nabi merupakan hashr ( pembatasan ), maka jelaslah bahwa tidak ada kiblat selain dari ainul ka’bah.
Adapun dalil qiyas adalah sebagai berikut :
Rasululloh sholallohu alaihi wasalam sangat memuliakan ka’bah dengan riwayat yang mutawatir ( tidak diragukan lagi keshahihanya ). Dan sholat adalah syiar agama yang paling agung, dan sholat menghadap ka’bah itu menambah pemuliaanya, maka dari itu wajibnya menghadap ka’bah merupakan sesuatu yang disyari’atkan.
Imam Syafi’e berkata dalam salah satu perkataanya : “ yang diwajibkan adalah ainul ka’bah “.
ADAPUN MENURUT HANAFI DAN MALIKI :
Bagi orang yang berada di dekat ka’bah maka tidak ada perbedaan bahwa kiblat adalah ainul ka’bah, namun jika ia berada jauh dari ka’bah maka cukup baginya menghadap arahnya saja.
Dalil dari madzhab Hanafi dan Maliki adalah dari Al-Qur’an, As-sunnah, amal sahabat dan logika.
Dalil dari Al-Qur’an :
Dalil yang digunakan dalam hal ini adalah ayat yang sama dengan pendapat Syafi’iyah dan Hanabilah, hanya saja madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa yang di maskud dengan satr adalah masjidil haram, bukan ka’bah, jadi jika orang itu sholat jauh dari makkah maka cukup ia menghadap ke arah masjidil haram saja.
Adapun dari sunnah :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ
“Antara timur dan barat adalah arah kiblat.” ( HR. Tirmidzi )
وَرَوَى الْبَيْهَقِيّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا : { الْبَيْتُ قِبْلَةٌ لِأَهْلِ الْمَسْجِدِ ، وَالْمَسْجِدُ قِبْلَةٌ لِأَهْلِ الْحَرَمِ ، وَالْحَرَمُ قِبْلَةُ أَهْلِ الْأَرْضِ فِي مَشَارِقِهَا وَمَغَارِبِهَا مِنْ أُمَّتِي }وَإِسْنَادُ كُلٍّ مِنْهُمَا ضَعِيفٌ .
Diriwayatkan dari al-Baihaqi dari Ibnu Abbas secara marfu’, : al-bait ( ka’bah ) merupakan kiblat bagi ahli masjid ( yang sholat di masjidil haram ), masjid adalah kiblat bagi penduduk haram, dan tanah haram merupakan kiblat dari penduduki bumi baik yang berada di timur maupun barat dari umatku ini ( sanadnya dhoif)
Adapun amalan sahabat :
Bahwa jama’ah masjid quba sholat subuh di Madinah masih menghadap baitul maqdis membelakangi ka’bah, maka dikatakanlah kepada mereka bahwa kiblat sudah dirubah ke ka’bah, maka mereka memutar di tengah-tengah sholat tanpa mencari petunjuk terlebih dahulu, dan nabi tidak mengingkari amalan tersebut, dan masjid mereka sekarang dikenal dengan masjid dzu qiblataini ( masjid yang memiliki dua kiblat ).
Jika kiblat itu harus ainul ka’bah, maka untuk menentukan hal itu membutuhkan alat ukur, sedang mereka langsung memutar tanpa menggunakan alat ukur terlebih dahulu, sehingga dapat difahami bahwa kiblat itu cukup arahnya saja.
Adapun dalil secara logika, bahwa untuk mendapatkan ainul ka’bah sangatlah sulit bagi orang yang melaksanakan sholat di makkah, apalagi bagi yang berada jauh dari ka’bah, jika ainul ka’bah itu wajib niscaya sholatnya penduduk timur dan barat yang jauh dari ka’bah tidak akan sah.
KESIMPULAN :
Dari penjelasna di atas dapat kita ambil kesimpulan, bagi orang yang berada di masjidil haram maka kiblatnya adalah ka’bah, sedangkan bagi yang jauh dari tanah suci makkah maka ia hendaknya berusaha semampunya untuk menemukan ainul ka’bah, namun jika ia sudah berusaha dan tidak tepat juga maka sholatnya tetap sah. Adapun untuk shof masjid hendaklah di musyawarahkan dengan baik dan diambil pendapat yang banyak mengandung maslahat dan menghindari madhorot berupa perpecahan dengan membuat masjid sendiri-sendiri.
Wallohu a’lam bisshowab.
MARAJI’ :
- Al-Mughni Ibnu Qudamah
- Mughnil-muhtaj Syamsudin Muhammad bin Ahmad Asy-Syarbini
- Bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtashid Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd
- Rawa’iul bayan Ali Ash-Shabuni
- Fiqih islam wa adilatuhu Wahbah Az-Zuhaili