Oleh : Abdulloh Al-Hanif
Mentalqin, maknanya adalah menunutun orang yang akan mati supaya ia mampu mengucapkan kalimat syahadat, laa ilaaha illalloh, merupakan anjuran dari Nabi sholallohu alaihi wasalam sebagaimana termaktub dalam hadits :
سنن أبي داوود ٢٧١٠: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرٌ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُمَارَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Sunan Abu Daud 2710: Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Bisyr, Telah menceritakan kepada kami ‘Umarah bin Gahziyyah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Umarah, ia berkata: saya mendengar Abu Sa’id Al Khudri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Talqinlah (ajarilah) orang yang (akan) meninggal diantara kalian dengan ucapan ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH.'”
PENDAPAT JUMHUR TALQIN SEBELUM MATI :
Pengertian “ mautakum “ dalam hadits diatas adalah orang yang sudah nampak tanda-tanda akan kematianya, yaitu ihtidhor ( datang ajal ), dinamakan mauta dikarenakan sudah akan terjadi ( ajal kematianya ).
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Al-Kasani rohimahulloh, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud Al-Mauta dalam hadits adalah Al-Muhtadhor ( datangnya ajal ) karena saking dekatnya kematian sehingga dinamakan Al-maut.
Sehingga talqin dilakukan kepada orang yang akan mati adalah yang benar, jika talqin diberikan kepada orang yang sudah mati pastilah tidak dapat memberi manfaat bagi si mayit, hal ini sebagaimana penjelasan hadits :
سنن أبي داوود ٢٧٠٩:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Sunan Abu Daud 2709: “Barangsiapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’ maka ia akan masuk surga.”
TALQIN SETELAH DIKUBUR :
Dari Rasyid bin Sa’ad, dan Dhamrah bin Habib, dan Hakim bin Amir, berkata, apabila kuburan mayit telah diratakan, dan manusia telah berinsut, dianjurkan supaya dikatakan kepada mayit di dekat kuburnya, wahai fulan katakanlah laa ilaaha illalloh, asyhadu allaa ilaaha illallohu sebanyak tiga kali, wahai fulan katakanlah bahwa Tuhanku adalah Alloh, Agamaku Islam, dan Nabiku adalah Muhammad sholallohu alaihi wasalam. Kemudian baru meninggalkan tempat. Diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Mansur dalam sunan beliau, juga disebutkan oleh Al-Hafidz dalam At-Talkhis tetapi beliau tidak berkomentar, dan diriwayatkan oleh tiga orang yang kesemuanya adalah para Tabi’ien Himsiyyun.
Dan Sa’id bin Abdillah Al-Ajdi, aku menyaksikan Abu Umamah radhiyallohu anhu ketika beliau naza’, beliau berkata, “ jika aku mati maka lakukanlah untuku sebagaimana Rosululloh perintahkan, Rasululloh bersabda, “ jika salah seorang saudara kalian wafat, maka taburkanlah tanah diatas kuburanya, kemudian hendaklah salah seorang diantara kalian berdiri didekat kepala mayit dalam kuburnya, kemudian hendaklah ia berkata, “ wahai fulan bin fulanah “, sesungguhnya ia mendengar akan tetapi tidak dapat menyahut, kemudian berkatalah, “ wahai fulan bin fulanah”, maka ia akan duduk, kemudian hendaklah berkata, “ wahai fulan bin fulanah”, maka mayit itu berkata “ terangkanlah kepada kami semoga Alloh merohmati engkau “, tetapi kalian tidak dapat merasakan.
Maka hendaklah mengatakan,” ingatlah, apa yang keluar atasnya dari dunia, syahadat laa ilaaha illalloh Muhammadan abduhu warosuluhu. Dan engkau telah ridho Alloh sebagai Tuhanmu dan Islam sebagai Agamamu, dan Muhammad adalah nabi, dan Al-Qur’an adalah Imam “ sampai selesai, hadits ini diriwayatkan At-Tabrani dalam Al-Kabir dan Abdul Aziz Al-Hambali dalam Asy-Syafi, diriwayatkan pula oleh Al-Hafidz dalam At-Talhis, beliau berkomentar bahwa sanadnya baik. Diterbitkan pula oleh Al-Haitsami, beliau berkomentar sanadnya jama’ah yang aku tidak mengenalnya. Imam Nawawi mendhoifkan hadits ini, hanya saja beliau berkata meskipun dhoif ( lemah ) sehingga terbatas, para ulama’ hadits dan yang lainya bersepakat akan kebolehan menggunakan hadits dhoif sebagai anjuran dan motivasi.
Mentalqin mayit setelah penguburan memang menjadi pendapat ulama’-ulama’ Syafi’iyah dan sebagian ulama’ Hanabilah, dalam hal ini mereka menyelisihi pendapat jumhur ulama’. Al-Atsram mengatakan, ketiak aku tanyakan kepada Ahmad tentang amalan yang mereka lakukan setelah penguburan, dimana duduklah salah satu dari mereka kemudian berkata, “ wahai fulan bintu fulanah “, maka beliau menjawab aku tidak menyaksikan amalan seperti ini kecuali ahlu syam ( penduduk Syam ) ketika wafatnya Abu Al-Mughiroh. Diriwayatkan didalamnya Abu Bakar bin Abi Maryam bahwa para syaikh mereka mengamalkanya dan Isma’il bin Iyas juga meriwayatkanya yang diisyaratkan kepada hadits Abu Umamah.
Imam Nawawi mengatakan, bahwa ulama’-ulama’ dikalangan kami mengamalkan amalan tersebut ( mentalqin mayit setelah penguburan ), salah seorang duduk didekat kepala orang yang dikubur kemudian berkata :
يا فلان ابن فلان أو يا عبد الله بن أمة الله اذكر العهد الذي خرجت عليه الدنيا، شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله، وأن الجنة حق والنار حق وأن البعث حق. وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور، وانك رضيت بالله ربا، وبالإسلام دينا، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا، وبالقرآن إماما، وبالكعبة قبلة، وبالمؤمنين إخوانا.
“ wahai fulan bin fulan atau abdullah bin amatillah, ingatlah janji yang dahulu mengeluarkanmu di dunia, syahadat bahwasanya tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah saja , tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwasanya surga itu benar, dan neraka itu benar, dan hari berbangkit juga benar, dan bahwasanya kiamat akan datang tidak ada keraguan di dalamnaya, bahwasanya Alloh akan membangkitkan manusia dari kuburnya, dan engkau telah ridho Alloh sebagai Tuhanmu, dan Islam sebagai agamamu, dan Muhammad sholallohu alaihi wasalam sebagai nabimu, dan Al-Qur’an sebagai imamu, ka’bah sebagai kiblatmu dan kaum mukminin adalah saudaramu”.
Talqin seperti ini menurut mereka ( ulama’ syafi’iyah ) hukumnya mustahab, disandarkan kepada nah Al-Qodhi Husain, Al-Mutawali Al-Maqdisi, Rafi’i dan yang lainya. Al-Qodhi Husain menukil dari sahabat-sahabat kami secara mutlak.
Syaikh Abu Amru, ketika ditanya, beliau menjawab, “ talqin yang kami pilih dan amalkan yang kami sandarkan kepada hadits Abu Umamah memang tidak kuat, akan tetapi banyak syawahid dan diamalkan oeh ahlusy-syam sejak dulu hingga sekarang”.
Imam Nawawi berkata, “ penduduk Syam selalu mengamalkan dari dulu hingga sekarang, mereka mengamalkan kepada mayit yang mukalaf adapun anak kecil tidak melakukan talqin tersebut.
KESIMPULAN :
Menurut mayoritas ulama’ bahwa talqin dilakukan kepada orang yang akan mati dengan harapan, kalimat terakhirnya adalah kalimat toyibah, adapun mentalqin mayit yang telah dikubur merupakan amalan ulama’-ulama’ Syafi’iyah yang disandarkan kepada hadits Abu Umamah dengan sanad dhoif dan dikuatkan dengan amalan Tabi’ien Himsiyyun dan amalan penduduk Syam, sedangkan menurut jumhur, do’a untuk mayit yang telah dikubur adalah do’a permohonan supaya mayit diberi keteguhan untuk menjawab pertanyaan malaikat. Wallohu a’lam.
Maroji :
- Al-Fathu Ar-Rabbani litartibi musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal Asy-Syaibani wa ma’ahu bulughul-amani min asrari Al-Fathu Ar-Rabbani Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Bana As-Sa’ati ( wafat 1378 H ) juz 8/66
- Mausu’ah Al-Fiqhiyah ‘ala madzahibil-arba’ah Ibnu Najar Ad-Dimyati juz 3
- Taudhihul Ahkam min bulughil maram Abdulloh bin Abdurrahman Al-Bassam juz 2
- Bimbingan lengkap penyelenggaraan jenazah Abdurrahman bin Abdullah Al-Ghaits
- Minhajul muslim Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaziri